Koranindopos.com – JAKARTA – Kawasan heritage Between Two Gates (BTG) di Kotagede, Kota Yogyakarta, sempat ditutup sementara setelah pengelola menilai terjadi gangguan akibat kedatangan rombongan wisatawan dalam jumlah besar tanpa koordinasi sebelumnya.
Penutupan sementara dilakukan selama dua hari sebagai bentuk evaluasi sekaligus upaya menjaga kenyamanan warga dan kelestarian kawasan bersejarah yang menjadi salah satu ikon wisata budaya di Kotagede.
Pengelola BTG, Joko Nugroho, menjelaskan bahwa insiden bermula pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 07.00 WIB ketika dua bus berisi wisatawan mancanegara datang secara bersamaan ke lokasi tanpa pemberitahuan atau koordinasi dengan pengelola.
Menurutnya, kedatangan rombongan dalam jumlah besar tersebut menimbulkan berbagai persoalan di kawasan yang sebenarnya merupakan lingkungan permukiman warga sekaligus situs heritage yang memiliki keterbatasan ruang.
Between Two Gates dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di kawasan Kotagede yang memiliki nilai budaya tinggi. Lokasi ini berupa lorong bersejarah yang diapit dua gerbang khas arsitektur Jawa dan menjadi daya tarik wisatawan yang ingin menikmati suasana kampung warisan budaya.
Karena berada di tengah permukiman warga, pengelolaan kunjungan wisatawan memerlukan aturan dan koordinasi yang baik agar aktivitas wisata tidak mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.
Pengelola menilai lonjakan kunjungan yang tidak terkoordinasi berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, baik bagi warga maupun wisatawan lainnya.
Penutupan sementara dilakukan bukan untuk menolak wisatawan, melainkan sebagai langkah evaluasi terhadap tata kelola kunjungan di kawasan tersebut. Pengelola berharap agen perjalanan maupun rombongan wisata dapat melakukan pemberitahuan terlebih dahulu sebelum membawa kelompok besar ke lokasi.
Dengan adanya koordinasi, pengelola dapat mengatur jadwal kunjungan, kapasitas wisatawan, serta memastikan aktivitas wisata berjalan tertib tanpa mengganggu lingkungan sekitar.
Langkah tersebut juga dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan kawasan heritage yang memiliki karakter berbeda dengan destinasi wisata massal.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas pariwisata perlu dijalankan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan aturan setempat, kapasitas destinasi, serta kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi wisata.
Prinsip responsible tourism atau wisata bertanggung jawab semakin penting diterapkan, terutama di kawasan budaya dan situs warisan sejarah yang memiliki keterbatasan ruang dan memerlukan perlindungan khusus.
Pengelola berharap wisatawan maupun pelaku industri pariwisata dapat lebih menghormati aturan dan kearifan lokal sehingga keberadaan destinasi heritage tetap terjaga dan dapat dinikmati secara berkelanjutan.
Setelah dilakukan evaluasi dan koordinasi internal, kawasan Between Two Gates kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan. Namun, pengelola menekankan pentingnya komunikasi dan pemberitahuan terlebih dahulu bagi rombongan dalam jumlah besar yang ingin berkunjung.
Dengan pengelolaan yang lebih tertata, kawasan heritage Kotagede diharapkan tetap menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Yogyakarta sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat tanpa mengorbankan kelestarian nilai sejarah yang dimilikinya.(dhil)










