Koranindopos.com, Jakarta – Nama Asrul Sani kembali menjadi perhatian publik. Lebih dari satu abad setelah kelahirannya, karya-karya tokoh sastra dan perfilman Indonesia itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).
Dalam peringatan Seabad Setahun Asrul Sani yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Perpusnas mengungkapkan bahwa lembaga tersebut menyimpan sedikitnya 80 koleksi yang berkaitan dengan sosok penyair, penulis skenario, sekaligus budayawan tersebut.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan puluhan koleksi itu menjadi bukti bahwa pemikiran dan karya Asrul Sani masih dapat diakses serta dipelajari oleh masyarakat hingga sekarang.
“Perpusnas memiliki karya-karya Asrul Sani. Dalam catatan saya, yang bisa kita temukan sementara ini terdeteksi ada 80 judul,” kata Aminudin.
Koleksi tersebut terdiri atas 31 judul monograf, 16 majalah, tiga koleksi surat kabar, tiga koleksi foto, serta 27 koleksi audio yang mendokumentasikan perjalanan intelektual dan kreativitas Asrul Sani.
Menurut Aminudin, pelestarian karya para tokoh bangsa merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya literasi. Karena itu, Perpusnas terus berupaya menghadirkan bahan bacaan yang relevan sekaligus memperkenalkan kembali karya sastra kepada generasi baru.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan karya-karya klasik dalam format yang lebih dekat dengan pembaca masa kini. Sejumlah karya sastra bahkan telah diadaptasi menjadi komik maupun cerita digital agar lebih mudah dinikmati.
“Ketika kita bicara tentang literasi, ini adalah bicara tentang pengembangan kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Peringatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta menilai Asrul Sani merupakan figur penting yang memberi pengaruh besar dalam perkembangan sastra, perfilman, dan pemikiran kebudayaan Indonesia.
Sebagai penyair Angkatan ’45, Asrul Sani dikenal menghadirkan tema kemerdekaan dan kemanusiaan dalam berbagai karyanya. Sementara di dunia perfilman, sejumlah skenario yang ditulisnya dianggap ikut membentuk sejarah sinema nasional.
Bambang mencontohkan film “Naga Bonar” sebagai salah satu karya yang berhasil memadukan kisah perjuangan bangsa dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
“Melalui karya-karyanya, beliau menunjukkan bahwa film Indonesia dapat berakar kuat pada identitas bangsa sekaligus memiliki kualitas artistik yang sangat tinggi,” katanya.
Bagi keluarga, peringatan ini memiliki makna yang lebih personal. Istri Asrul Sani, Mutiara Sani Sarumpaet, mengatakan suaminya bukan hanya dikenal sebagai sastrawan dan sineas, tetapi juga sosok yang menjadi sahabat sekaligus guru kehidupan.
“Seabad setahun ini bukan sekadar peringatan angka. Tetapi ajakan untuk membaca, memahami dan menghidupkan kembali semangat yang diwariskan, yakni semangat berpikir kritis, keberanian berkarya serta komitmen terhadap nilai kemanusiaan dan kebangsaan,” ujar Mutiara.
Rangkaian acara turut diisi pembukaan pameran bertajuk “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” yang berlangsung hingga 17 Juni 2026 di Ruang Pameran Lantai 4 Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Perpusnas. Beragam arsip, dokumentasi, karya, serta perjalanan hidup Asrul Sani dipamerkan kepada publik.
Selain itu, Dialog Budaya juga menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi seperti Jimly Asshiddiqie, Riris K. Toha-Sarumpaet, Eros Djarot, S.M. Gietty Tambunan, dan Fauzan Zidni untuk membahas pengaruh pemikiran serta kontribusi Asrul Sani bagi sastra, film, dan kebudayaan Indonesia. (BRG/Kul)










