Koranindopos.com, Jakarta – Film bertema konflik pertanahan akan segera hadir di bioskop Indonesia melalui karya terbaru Ocean Production berjudul Tanah Sengketa. Film yang dijadwalkan tayang mulai 25 Juni 2026 itu menghadirkan Mita dan Dara dari grup The Virgin sebagai pemeran utama dalam cerita yang memadukan drama keluarga, percintaan, sekaligus persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Lewat film ini, penonton diajak mengikuti kisah perselisihan lahan yang terjadi di sebuah desa. Namun, konflik yang diangkat tidak hanya berfokus pada persoalan hukum, melainkan juga hubungan antarmanusia yang ikut terdampak oleh sengketa tersebut.
Mita dipercaya memerankan karakter Lina, seorang perempuan yang lahir dan besar di desa tempat konflik berlangsung. Sementara Dara memerankan Yuni, perempuan dari kota yang datang ke desa tersebut dan kemudian terlibat dalam berbagai persoalan yang berkembang. Ketegangan di antara keduanya semakin terasa karena kehadiran tokoh pria bernama Awan Reyhan.
Sutradara sekaligus produser film, Muda Saleh, mengatakan bahwa Tanah Sengketa dibuat untuk menghadirkan hiburan sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai persoalan pertanahan yang kerap terjadi di berbagai daerah.
“Lewat film ini, yang didukung pula oleh lagu tema dari The Virgin, kami ingin menyampaikan pesan bahwa sengketa tanah bukan sekadar urusan hukum, melainkan juga menyangkut hubungan cinta kasih dan kemanusiaan,” ujar Muda Saleh saat ditemui di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, tema yang diangkat dalam film ini dipilih karena masih banyak masyarakat yang belum memahami proses dan aturan terkait pertanahan. Karena itu, cerita disusun dalam format drama yang mudah diikuti oleh berbagai kalangan.
Muda Saleh berharap penonton tidak hanya menikmati alur cerita dan konflik para tokohnya, tetapi juga mendapatkan wawasan baru mengenai persoalan administrasi pertanahan yang sering muncul di tengah masyarakat.
“Melalui film Tanah Sengketa ini, kami ingin mendudukkan perkara di tengah-tengah agar masyarakat mendapatkan edukasi dan literasi mengenai proses pertanahan dari hulu ke hilir,” lanjutnya.
Bagi Mita dan Dara, proyek ini menjadi pengalaman tersendiri. Keduanya harus beradaptasi dengan para pemain lain yang baru pertama kali bekerja bersama dalam satu produksi film. Proses membangun chemistry pun menjadi salah satu tantangan yang mereka hadapi selama masa persiapan hingga syuting berlangsung.
Pengambilan gambar dilakukan di kawasan Citeureup, Bogor. Selama proses produksi, para pemain disebut rutin melakukan latihan, diskusi karakter, hingga membaca naskah bersama agar setiap adegan dapat tampil lebih natural di depan kamera.
Dara mengungkapkan bahwa komunikasi yang intens dengan sesama pemain sangat membantu dirinya memahami karakter yang diperankan. Ia juga banyak berdiskusi dengan Awan Reyhan untuk membangun interaksi yang terlihat meyakinkan di layar lebar.
“Di lokasi syuting, aku dan Awan sering melakukan reading dan berdiskusi bagaimana membawakan adegan agar tidak kaku saat pengambilan gambar,” kata Dara.
Selain menampilkan drama yang berkaitan dengan konflik lahan, film ini juga memiliki keterkaitan dengan perjalanan musik The Virgin. Kehadiran lagu tema dari duo tersebut menjadi salah satu elemen yang memperkuat cerita yang disajikan sepanjang film. (BRG/Hend)











