Menurut Muzammil, independensi merupakan fondasi utama yang harus dijaga oleh setiap gerakan mahasiswa. Karena itu, segala bentuk tindakan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dinilai dapat merusak kredibilitas perjuangan mahasiswa di mata publik.
“Gerakan mahasiswa harus berdiri di atas integritas moral dan intelektual, bukan atas dasar imbalan atau kepentingan tertentu yang dapat mengurangi independensi perjuangan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).
Muzammil menilai, apabila dugaan penerimaan uang tersebut terbukti benar, maka tindakan itu sangat disayangkan karena tidak mencerminkan nilai-nilai yang selama ini melekat pada gerakan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa secara historis dikenal sebagai kelompok yang independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Oleh karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi mengaburkan tujuan perjuangan mahasiswa harus menjadi perhatian serius.
Menurutnya, gerakan mahasiswa lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa, bukan untuk mengejar keuntungan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu.
“Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa hadir sebagai kekuatan moral yang mengawal berbagai isu publik dan memperjuangkan kepentingan masyarakat,” katanya.
Meski demikian, Muzammil mengingatkan agar polemik yang melibatkan seorang mahasiswa tidak dijadikan dasar untuk menilai seluruh gerakan mahasiswa di Indonesia.
Ia mengaku khawatir apabila kasus tersebut kemudian digeneralisasi sehingga menciptakan persepsi negatif terhadap organisasi dan aktivis mahasiswa yang selama ini konsisten memperjuangkan berbagai isu publik.
“Kami tentu khawatir apabila kasus ini kemudian digeneralisasi dan dijadikan dasar untuk menilai seluruh gerakan mahasiswa di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Muzammil, kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa tidak dibangun oleh satu peristiwa semata. Kepercayaan itu terbentuk melalui rekam jejak panjang perjuangan mahasiswa dalam mengawal demokrasi, mengkritisi kebijakan publik, serta menyuarakan aspirasi masyarakat.
Lebih lanjut, Muzammil berharap polemik tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi seluruh organisasi mahasiswa di Indonesia untuk memperkuat tata kelola organisasi dan menjaga marwah perjuangan mahasiswa.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap aktivitas organisasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.
“Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar gerakan mahasiswa semakin transparan, akuntabel, dan menjaga marwah perjuangan,” tuturnya.
Selain itu, ia mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tidak saling menyalahkan maupun terpecah belah akibat kasus yang tengah menjadi sorotan publik tersebut. Sebaliknya, peristiwa ini harus dijadikan pelajaran bersama guna memperkuat integritas, etika, dan komitmen perjuangan mahasiswa ke depan.
“Juga untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di kelompok-kelompok mahasiswa lainnya,” kata Muzammil.
Pernyataan BEM SI tersebut menegaskan bahwa integritas tetap menjadi elemen penting dalam menjaga legitimasi gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat. Di tengah berbagai tantangan dan dinamika sosial-politik, mahasiswa diharapkan tetap mampu menjaga independensi serta konsisten memperjuangkan kepentingan publik tanpa dipengaruhi kepentingan tertentu.
Dengan demikian, polemik yang muncul saat ini tidak hanya menjadi perhatian terkait individu yang terlibat, tetapi juga menjadi momentum bagi organisasi mahasiswa untuk memperkuat nilai-nilai dasar perjuangan yang selama ini menjadi identitas gerakan mahasiswa Indonesia.(dhil0/kmps)










