koranindopos.com, JAKARTA – Institut Sosial dan Teknologi (ISTEK) Widuri menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-1 Program Magister dan Sarjana Tahun 2026 di Graha Jalapuspita, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 142 lulusan diwisuda pada wisuda perdana setelah kampus tersebut resmi bertransformasi menjadi institut. Dalam kesempatan itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Jakarta menegaskan bahwa perubahan status tersebut harus diikuti penguatan mutu pendidikan, riset, serta pencetakan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja dan mampu memberi dampak bagi masyarakat.
Kepala LLDIKTI Wilayah III Jakarta menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika ISTEK Widuri atas keberhasilan menyelesaikan transformasi kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut. Menurutnya, perubahan status tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh unsur kampus dalam memenuhi berbagai persyaratan akademik, tata kelola, penguatan sumber daya manusia, hingga administrasi.
“Status sebagai institut membawa tanggung jawab yang lebih besar, terutama karena menggabungkan bidang ilmu sosial dan teknologi yang saling melengkapi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini tidak lagi hanya berfokus menghasilkan lulusan, tetapi harus mampu menghadirkan pendidikan yang berdampak melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan kebutuhan industri maupun masyarakat luas.
Kepada para wisudawan, Kepala LLDIKTI berpesan agar terus meningkatkan kompetensi setelah lulus. Menurutnya, ijazah hanyalah pintu masuk menuju dunia kerja, sedangkan keberhasilan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi, integritas, karakter, serta kemauan untuk terus belajar.
Ia juga mengutip pesan Albert Einstein, “Jangan mencoba menjadi orang sukses, tetapi jadilah orang yang memiliki nilai,” sebagai pengingat pentingnya karakter di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Selain itu, LLDIKTI menyampaikan penghargaan kepada para orang tua dan keluarga yang telah mendukung pendidikan para lulusan. Pihaknya juga mendorong pimpinan ISTEK Widuri untuk terus memperkuat sistem penjaminan mutu serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
“Kami di LLDIKTI Wilayah III akan senantiasa siap mendampingi dan memberikan pembinaan demi menjaga serta meningkatkan mutu pendidikan tinggi,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Pekerja Sosial (YPPS) Dian Agape menegaskan komitmen yayasan dalam mendukung pengembangan pendidikan berkualitas sekaligus mencetak lulusan yang berintegritas, inovatif, dan mampu menjadi agen perubahan.
Menurut Dian, transformasi menjadi Institut Sosial dan Teknologi Widuri merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman. Karena itu, peningkatan mutu akademik harus berjalan seiring dengan penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang kuat.
“Kami berharap para lulusan tidak berhenti belajar. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus menjadi bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, dunia profesional, dan pembangunan bangsa,” ujarnya.
Dian juga menekankan pentingnya menjaga independensi kampus sebagai ruang lahirnya gagasan, penelitian, dan inovasi yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial maupun teknologi.
Sementara itu, Rektor ISTEK Widuri Prof. Dr. Robert M.Z. Lawang mengungkapkan bahwa wisuda perdana tersebut diikuti sekitar 142 lulusan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Teknologi. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 persen telah bekerja sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Tadi ketika para wisudawan naik ke panggung, saya sempat bertanya satu per satu mengenai pekerjaan mereka. Saya sangat senang karena sekitar 85 hingga 90 persen di antaranya sudah bekerja,” ujar Robert.
Selain tingkat penyerapan kerja yang tinggi, Robert mengatakan mayoritas lulusan juga berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,00.
“Sebagai pendidik, kami bangga ketika alumni tidak hanya memiliki prestasi akademik yang baik, tetapi juga dapat segera memperoleh pekerjaan. Mereka relatif cepat terserap ke dunia kerja,” katanya.
Menurut Robert, transformasi ISTEK Widuri dari STISIP Widuri dan STMIK Widuri menjadi institut diharapkan mampu meningkatkan daya saing perguruan tinggi sekaligus menarik lebih banyak mahasiswa.
Ia menambahkan, peningkatan jumlah mahasiswa harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dosen, pembelajaran, dan penguatan kompetensi lulusan agar semakin siap bersaing di dunia kerja.
“Harapan saya jumlah mahasiswa terus bertambah. Dengan begitu, kualitas dosen maupun mahasiswa juga semakin meningkat sehingga peluang lulusan memperoleh pekerjaan akan semakin besar. Sebab, kalau perguruan tinggi hanya mencetak pengangguran, tentu pendidikan itu kehilangan maknanya,” tutup Robert. (Riz)










