Koranindopos.com – JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menerima audiensi perwakilan dosen dan mahasiswa berprestasi Universitas Brawijaya (UB) di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa UB memperkenalkan sejumlah inovasi yang dikembangkan di bidang kesehatan. Salah satu yang mendapat perhatian adalah ADAPT-V, sebuah rompi pintar yang dirancang untuk membantu menangani kondisi tantrum pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD).
ADAPT-V mengintegrasikan sensor detak jantung dan sensor gerakan dengan teknologi machine learning serta Internet of Things (IoT).
Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengidentifikasi perubahan kondisi anak ketika mengalami tantrum. Ketika kondisi tersebut terdeteksi, rompi akan mengembang dan memberikan tekanan pada tubuh anak.
Tekanan tersebut ditujukan untuk memberikan sensasi seperti pelukan sehingga diharapkan dapat membantu memberikan rasa nyaman kepada anak.
Setelah sistem mendeteksi kondisi anak telah kembali stabil, rompi akan mengempis dan kembali ke bentuk semula.
Kepala Pengembangan Talenta Mahasiswa Universitas Brawijaya Abu Bakar Sambah mengatakan, Gibran mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswa.
Menurut dia, Wapres juga mendorong agar berbagai inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian maupun publikasi, tetapi dapat dikembangkan hingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pesan dari Mas Wapres bahwa alat ini tidak saja berhenti sampai di sini. Tidak saja berhenti sampai dipublikasi, tapi harus berhenti sampai dihilirisasi, dan produk ini harus punya manfaat,” kata Abu Bakar, dikutip dari siaran pers Sekretariat Wakil Presiden, Kamis.
Selain ADAPT-V, mahasiswa Universitas Brawijaya juga memperkenalkan dua inovasi lainnya, yakni Transaid dan Vitalsense.
Transaid memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pencitraan tiga dimensi. Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu mendeteksi celah antara bahan tambalan dengan gigi asli.
Sementara itu, Vitalsense merupakan perangkat pemantauan kesehatan secara non-invasif yang menggabungkan Internet of Things (IoT) dengan machine learning.
Perangkat tersebut dirancang untuk melakukan screening terhadap enam parameter kesehatan, yaitu suhu tubuh, tekanan darah, saturasi oksigen, kolesterol, glukosa, dan denyut nadi.
Ketiga inovasi tersebut menunjukkan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk menjawab berbagai kebutuhan di bidang kesehatan.
Dalam audiensi tersebut, Gibran juga mengingatkan mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi, minat, dan bakat yang dimiliki.
Abu Bakar menyampaikan, mahasiswa didorong untuk tidak membatasi diri hanya pada satu bidang keilmuan.
“Kembangkan potensi diri, kembangkan minat dan bakat. Entah itu bidangnya mau sainstek (sains dan teknologi), bidangnya ada di sosial humaniora, yang penting kembangkan potensi diri,” tutur Abu Bakar.
Menurut Gibran, pengalaman mahasiswa juga perlu diperluas. Proses pembelajaran tidak seharusnya hanya berlangsung di lingkungan kampus, tetapi juga melalui interaksi dengan masyarakat dan berbagai persoalan sosial.
Pengalaman tersebut dinilai dapat mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan yang lebih kreatif sekaligus inovatif.
Gibran juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk aktif, baik dalam proses pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami persoalan yang ada, tetapi turut mencari solusi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Sehingga mahasiswa memang harus dituntut untuk selalu aktif dalam berbagai hal. Jadi aktif dalam belajar, aktif dalam memahami masalah sosial, dan yang paling utama adalah memberikan solusi nyata untuk kepentingan bersama,” beber Abu Bakar.
Dorongan tersebut sejalan dengan pesan agar inovasi mahasiswa tidak berhenti sebagai karya akademik. Pengembangan lebih lanjut hingga tahap hilirisasi diharapkan dapat membuat berbagai hasil penelitian dan inovasi benar-benar digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
ADAPT-V, Transaid, dan Vitalsense menjadi contoh bagaimana kemampuan mahasiswa dalam bidang teknologi dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi di sektor kesehatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus dikembangkan, diuji, dan dimanfaatkan secara nyata.(dhil/kmps)










