Koranindopos.com – JAKARTA – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak langsung terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Sejumlah penerbangan ditunda hingga dibatalkan demi keselamatan, sementara calon penumpang harus menghadapi ketidakpastian jadwal keberangkatan.
Salah satu penumpang yang terdampak adalah Ahmad Zuzaimi (29), calon penumpang pesawat Citilink. Ia mengaku telah tertahan di sekitar Bandara Soekarno-Hatta selama tiga hari berturut-turut, sejak 5 hingga 7 September 2026.
Selama menunggu kepastian penerbangan, jadwal keberangkatan Ahmad telah mengalami perubahan sebanyak tiga kali.
Ahmad mengatakan, kondisi tersebut membuat dirinya harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memenuhi kebutuhan selama berada di sekitar bandara.
Ia harus berpindah-pindah tempat menginap karena penundaan penerbangan yang belum memberikan kepastian waktu keberangkatan.
“Dari pihak maskapai itu hanya menjamin tiket keberangkatan saja. Untuk aktivitas dan kehidupan kita di sini tidak dijamin,” ujar Ahmad saat ditemui Kompas.com di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).
Pengeluaran untuk menyewa kamar hotel pun semakin membengkak. Jika penundaan kembali diperpanjang hingga beberapa hari ke depan, Ahmad bahkan mempertimbangkan untuk tidur di area terminal bandara.
“Kalau terus ditunda sampai seminggu, mungkin saya pilih tidur di bandara karena biaya hotel juga semakin besar,” ujarnya.
Meski aktivitas pekerjaannya terganggu total, Ahmad mengaku memahami bahwa gangguan penerbangan tersebut terjadi akibat faktor alam.
Ia berharap pemerintah bersama pengelola penerbangan dapat segera melakukan penanganan dan memberikan kepastian yang lebih jelas kepada para penumpang.
Dampak serupa juga dirasakan Rifki (32), calon penumpang yang hendak menuju Negeri Sembilan, Malaysia, melalui Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Rifki yang sempat tertahan di Jakarta bahkan telah satu kali bolak-balik ke bandara untuk mengurus pendaftaran ulang atau reschedule jadwal penerbangannya.
Penundaan tersebut tidak hanya mengganggu perjalanan, tetapi juga berdampak terhadap usaha kuliner yang dikelola Rifki bersama keluarganya di Malaysia.
“Di Negeri Sembilan saya ada usaha bersama keluarga, rumah makan. Bagi kami, kehilangan satu atau dua hari itu seperti kehilangan modal hidup. Ada ruginya, tapi mau bagaimana lagi karena ini faktor alam,” kata Rifki.
Karena tidak memiliki sanak saudara di sekitar bandara, Rifki memilih mencari penginapan terdekat sembari menunggu kepastian jadwal penerbangannya.
Pihak maskapai sempat memberikan informasi mengenai kemungkinan penerbangan pada hari berikutnya. Namun, jadwal tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Sebelumnya, operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan karena keberadaan abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat.
Pada Senin (7/9/2026), Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa penutupan operasional bandara diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB.
“Penutupan akan diperpanjang sampai pukul 24.00 WIB,” ujar Dudy di Bandara Soekarno-Hatta, Senin.
Perpanjangan penutupan tersebut membuat calon penumpang kembali harus menunggu hingga kondisi dinyatakan aman untuk penerbangan.
Bagi penumpang seperti Ahmad dan Rifki, gangguan akibat erupsi Anak Krakatau bukan hanya berarti tertundanya perjalanan. Biaya penginapan, aktivitas pekerjaan yang terhenti, hingga potensi kerugian usaha turut menjadi konsekuensi yang harus mereka tanggung sembari menunggu kepastian penerbangan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa erupsi gunung api dapat memberikan dampak berantai terhadap aktivitas masyarakat, termasuk mobilitas dan kegiatan ekonomi, bahkan bagi mereka yang berada jauh dari lokasi gunung api.(dhil/kmps)




