Koranindopos.com – JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (14/9/2026). Dolar AS kini berada di kisaran Rp17.600.
Mengacu pada data perdagangan Bloomberg, dolar AS tercatat melemah 4 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp17.607 per dolar AS pada Senin pagi.
Pergerakan tersebut terjadi setelah nilai tukar rupiah sempat berfluktuasi sepanjang pekan sebelumnya. Pada pertengahan pekan, dolar AS sempat turun ke kisaran Rp17.500.
Namun, menjelang akhir pekan, dolar AS kembali menguat sehingga rupiah tertekan dan kembali bergerak di kisaran Rp17.600 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada pekan lalu cukup dinamis. Berdasarkan data perdagangan USD/IDR, dolar AS sempat berada di sekitar Rp17.505 pada 9 September dan Rp17.535 pada 10 September.
Namun, pada Jumat (11/9/2026), rupiah kembali melemah. Dolar AS ditutup di level sekitar Rp17.611, naik 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada Senin pagi membawa nilai tukar kembali sedikit menjauh dari level penutupan akhir pekan tersebut.
Meski rupiah menguat tipis pada awal perdagangan, pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi sejumlah sentimen global.
Pasar antara lain mencermati perkembangan inflasi AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah dolar AS sekaligus arus modal ke pasar negara berkembang.
Harga minyak dunia yang berada di atas US$100 per barel juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk melalui potensi kenaikan biaya impor dan tekanan inflasi.
Penguatan rupiah ke level Rp17.607 pada awal pekan menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya satu arah.
Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS.
Pada perdagangan Senin, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif di tengah perhatian pasar terhadap data ekonomi AS, kebijakan bank sentral, serta perkembangan harga komoditas energi.
Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah tetap menjadi salah satu indikator penting karena perubahan nilai tukar dapat berdampak terhadap biaya impor, inflasi, arus modal, hingga kinerja perusahaan yang memiliki eksposur terhadap valuta asing.
Dengan dolar AS kembali berada di level Rp17.607, arah rupiah sepanjang perdagangan awal pekan masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pasar terhadap data ekonomi terbaru.(dhil/dtk)










