Koranindopos.com – JAKARTA — Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan (archipelagic state) dengan potensi kekayaan laut melimpah masih menghadapi tantangan serius terkait pemerataan konsumsi produk perikanan di tingkat masyarakat.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, membeberkan bahwa data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan adanya jurang ketimpangan konsumsi ikan yang cukup tajam antarwilayah di tanah air.
Dalam sambutannya di acara talkshow Hari Pangan di Gedung BPOM, Selasa (27/10/2026), Taruna menjelaskan bahwa tingkat konsumsi ikan nasional sebenarnya mengalami peningkatan dari 25,31 kg per kapita per tahun pada 2024 menjadi 26,8 kg pada 2025, atau tumbuh sekitar 3,05 persen. Namun, pertumbuhan positif ini belum dibarengi dengan distribusi yang merata.
“Ketimpangan konsumsi ikan antarwilayah di Indonesia ditunjukkan dengan hasil Susenas BPS tahun 2025,” ujar Taruna melalui tayangan video.
Berdasarkan data Susenas BPS 2025, angka konsumsi ikan tertinggi tercatat di Sulawesi Utara, yang mencapai 48,97 kg per kapita per tahun. Sebaliknya, wilayah di Pulau Jawa dan kawasan timur pegunungan mencatatkan angka yang jauh di bawah rerata tersebut:
-
Sulawesi Utara: 48,97 kg/kapita/tahun (Konsumsi tertinggi)
-
Provinsi di Pulau Jawa: 16,00 – 27,00 kg/kapita/tahun
-
Papua Pegunungan: 10,66 kg/kapita/tahun (Konsumsi terendah)
Taruna menegaskan, disparitas angka konsumsi ini mengindikasikan adanya kendala besar dalam sistem logistik distribusi serta keandalan rantai dingin (cold chain system). Hal tersebut mengakibatkan masyarakat di wilayah daratan dan non-pesisir sulit mendapatkan pasokan ikan segar berkualitas tinggi.
Guna mengatasi hambatan logistik tersebut, inovasi teknologi pengolahan hasil laut seperti pengalengan ikan secara komersial menjadi salah satu solusi strategis.
Melalui teknik sterilisasi komersial yang tepat:
-
Masa Simpan Panjang: Produk perikanan dapat didistribusikan hingga ke pelosok tanpa membutuhkan pendingin intensif.
-
Bebas Pengawet Kimia: Teknologi pengalengan mampu mempertahankan daya simpan tanpa penambahan bahan kimia berbahaya.
-
Kandungan Nutrisi Terjaga: Kadar protein tinggi serta asam lemak esensial Omega-3 tetap terpreservasi dengan baik.
Mengakhiri penjelasannya, Kepala BPOM menekankan pentingnya asupan nutrisi dari produk laut bagi tumbuh kembang dan kesehatan masyarakat. Protein dan asam lemak Omega-3 yang terkandung di dalam ikan memiliki peran vital dalam mendukung kesehatan jaringan saraf, mengoptimalkan fungsi kognitif, serta menjaga kemampuan daya ingat (memory retention) lintas usia.
Dengan dorongan inovasi olahan pangan yang aman dan terjangkau, pemerintah berharap tingkat konsumsi ikan di seluruh pelosok Indonesia dapat semakin merata guna mendukung pemenuhan gizi nasional.(dhil/dtk)










