Koranindopos.com – JAKARTA — Obesitas bukan lagi sekadar persoalan fisik atau angka yang tertera di atas timbangan. Sebagai penyakit kronis yang kompleks, obesitas memiliki hubungan dua arah yang sangat kuat dengan kesehatan mental. Stigma sosial yang melekat di tengah masyarakat kerap menambah beban psikologis bagi para penderitanya.
Menyoroti urgensi tersebut, Novo Indonesia resmi meluncurkan kampanye bertajuk “Hidup Lebih Ringan” di Jakarta, Rabu (5/11/2026). Kampanye ini bertujuan untuk memperluas pemahaman publik bahwa keberhasilan pengelolaan obesitas tidak diukur semata-mata dari penurunan berat badan, melainkan dari peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh—mencakup aspek fisik, mental, dan emosional.
Studi ilmiah dan data meta-analisis jangka panjang mengungkapkan fakta medis yang mengkhawatirkan mengenai keterkaitan antara berat badan berlebih dan gangguan suasana hati:
-
Risiko Depresi pada Obesitas: Individu dengan obesitas tercatat memiliki kemungkinan 55 persen lebih tinggi untuk mengalami depresi seiring waktu.
-
Risiko Obesitas pada Depresi: Sebaliknya, orang yang mengalami depresi memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi untuk berkembang menjadi obesitas.
Meskipun hubungan dua arah ini terbukti nyata, hambatan psikososial dan stigma negatif masih menjadi tembok besar bagi pasien untuk mencari pertolongan medis.
Data survei ACTION APAC Indonesia menunjukkan bahwa hanya 3 dari 10 orang (30%) dengan obesitas di Indonesia yang pernah mendiskusikan kondisi berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Anggapan keliru bahwa penurunan berat badan adalah murni tanggung jawab pribadi (self-blame) diakui oleh 43% responden sebagai alasan utama keengganan mereka berkonsultasi ke dokter.
“Hubungan obesitas dan kesehatan mental berjalan dua arah dan berbeda pada setiap individu. Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya,” ujar dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ.
Ia menambahkan bahwa kondisi psikologis tertentu dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas harian, nafsu makan, serta perilaku seseorang. Oleh karena itu, kondisi fisik seseorang tidak boleh digunakan untuk menilai karakter maupun kualitas diri individu tersebut.
Dari sudut pandang medis klinis, obesitas tidak bisa disederhanakan sebagai akibat dari kurangnya kedisiplinan atau lemahnya kontrol diri seseorang.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa otak manusia mengatur perilaku makan melalui sistem biologis yang sangat kompleks, termasuk pengontrolan sinyal lapar dan kenyang, respons terhadap kepuasan makanan, serta mekanisme pengambilan keputusan.
“Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang,” jelas dr. Christopher.
Pendekatan penanganan obesitas modern menuntut strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan profil klinis masing-masing pasien. Selain fondasi utama berupa pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur, dokter dapat mempertimbangkan intervensi tambahan seperti:
-
Dukungan Psikologis & Perilaku: Pendampingan mental untuk mengatasi stres dan beban emosional.
-
Terapi Farmakologis: Pemanfaatan obat medis di bawah pengawasan ketat dokter, seperti terapi glucagon-like peptide-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja meniru hormon alami pemberi sinyal kenyang.
-
Bedah Bariatrik: Opsi medis lanjutan bagi kasus tertentu yang memenuhi indikasi klinis.
Melalui kampanye Hidup Lebih Ringan, Novo Indonesia berupaya memangkas stigma sosial, mendorong komunikasi terbuka antara pasien dan tenaga kesehatan, serta menghadirkan ruang dukungan yang empatik.
Associate Director, Customer Engagement, Novo Indonesia, Inggita Sistha Widyawan, menyampaikan harapan agar masyarakat dapat memandang perjalanan pengelolaan berat badan dengan cara pandang yang lebih suportif.
“Yang ingin kami ringankan bukan hanya berat badan, tetapi juga beban untuk menjalaninya sendirian. Kami berharap orang dengan obesitas merasa lebih didukung, tidak dihakimi, dan terdorong mencari informasi serta bantuan medis yang tepat,” ungkap Inggita.
Sebagai langkah awal pemanfaatan edukasi publik yang tervalidasi, masyarakat dapat memanfaatkan platform digital NovoCare.id. Situs web ini menyediakan informasi medis terpercaya seputar obesitas, fitur kalkulator indeks massa tubuh (BMI), serta direktori pencarian dokter spesialis baik secara daring maupun tatap muka guna mempermudah akses layanan kesehatan yang profesional.(dhil)




