Koranindopos.com – JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan ancaman serius peningkatan kasus pneumonia dan gangguan pernapasan pada anak di tengah krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah terdampak membawa partikel mikroskopis berbahaya yang dapat menembus hingga ke bagian terdalam sistem pernapasan anak.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menegaskan bahwa anak-anak memiliki tingkat kerentanan jauh lebih tinggi terhadap polusi asap karena organ paru-paru mereka masih dalam tahap perkembangan dan laju pernapasan (respiratory rate) mereka lebih cepat dibanding orang dewasa.
“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, ini adalah krisis kesehatan anak yang berlangsung perlahan dan sering luput dari perhatian. Kabut asap menurunkan kualitas udara, dan partikel halus PM2,5 dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru, memicu peradangan, dan melemahkan mekanisme pertahanan saluran napas,” ujar Piprim dalam konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Khairiyadi Ismail, Sp.A, Subsp. Respi(K), menjelaskan bahwa paparan partikel halus dari asap karhutla tidak hanya memicu serangan atau eksaserbasi asma, tetapi juga meningkatkan secara drastis risiko infeksi saluran pernapasan bawah, termasuk pneumonia.
Riset dan data lapangan mengonfirmasi hubungan langsung antara paparan PM2,5 akibat karhutla dan peningkatan rawat inap pasien anak:
-
Studi Palembang (2011–2020): Menunjukkan adanya korelasi positif antara lonjakan konsentrasi PM2,5 dan bertambahnya kasus pneumonia anak.
-
Data RSUD Ulin Kalimantan Selatan (2026): Mencatat lonjakan signifikan angka rawat jalan dan rawat inap anak akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta asma yang sejalan dengan puncak musim kemarau dan maraknya titik api karhutla.
“Kami melihat korelasi langsung antara lonjakan kasus ISPA dan pneumonia di fasilitas kesehatan dengan periode puncak karhutla. Ini adalah sinyal darurat yang harus segera direspons dengan tindakan mitigasi yang terkoordinasi,” kata Khairiyadi.
Menurut Khairiyadi, pemaparan asap karhutla pada anak umumnya memicu tiga manifestasi gangguan pernapasan utama:
-
Pneumonitis Iritan: Peradangan jaringan paru akibat iritasi bahan kimia/partikel asap.
-
Eksaserbasi Asma: Kambuhnya krisis asma secara mendadak akibat pemicu polutan udara.
-
Pneumonia Infeksius: Peradangan paru akibat infeksi sekunder bakteri atau virus ketika pertahanan saluran napas melemah.
Mengingat ketiga kondisi tersebut memiliki kemiripan gejala klinis, IDAI mengimbau evaluasi diagnosis medis yang tepat dan mengingatkan pentingnya efisiensi terapi.
“Penggunaan antibiotik tidak rutin diberikan pada pneumonitis iritan atau eksaserbasi asma tanpa adanya indikasi infeksi bakteri,” tegas Khairiyadi.
Menghadapi ancaman krisis kesehatan ini, IDAI menyerukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, tenaga medis, media massa, dan masyarakat umum untuk memperketat langkah proteksi anak. Upaya ini mencakup edukasi penggunaan masker standar bagi anak, pembatasan aktivitas luar ruangan (outdoor), serta deteksi dini gejala gangguan napas agar penanganan medis dapat diberikan sesegera mungkin.(dhil/dtk)









