Koranindopos.com – JAKARTA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membawa dampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus 401.586 kasus, yang tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla.
Grafik penderita ISPA diprediksi masih terus bergerak naik seiring dengan paparan kabut asap yang belum sepenuhnya teratasi di lapangan. Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus terjadi setiap hari di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan daerah.
“Jumlah tersebut sudah termasuk penambahan sebanyak 3.906 kasus baru berdasarkan data pemantauan per 2 November 2026 sore pukul 16.00 WIB,” jelas Widyawati dalam siaran Info Bencana Terkini di kanal YouTube BNPB, Rabu (4/11/2026).
Sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna serta kondisi fisik yang melemah membuat kelompok anak-anak dan lansia paling rentan menanggung dampak racun dari asap karhutla.
Berdasarkan pemetaan data Kemenkes, rincian kasus pada kelompok umur rentan meliputi:
-
Anak Usia Balita (0–5 Tahun): 91.913 kasus.
-
Anak Usia Sekolah (6–9 Tahun): 87.704 kasus.
-
Kelompok Lansia (di atas 60 Tahun): 56.092 kasus.
Selain itu, Kemenkes juga memberikan perhatian intensif bagi kelompok dengan kondisi khusus:
-
Ibu Hamil: 590 orang berisiko mengalami komplikasi kehamilan akibat polusi udara beracun.
-
Penderita Asma: 1.530 orang rentan mengalami serangan pernapasan berulang.
-
Pekerja Luar Ruangan (Outdoor Workers): 8.086 orang terpapar langsung asap saat beraktivitas harian.
“Wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling besar mencakup Kota Banjarbaru di Kalimantan Selatan, Pekanbaru di Riau, dan Pontianak di Kalimantan Barat,” ujar Widyawati.
Selain merusak sistem pernapasan, partikel abu dan debu sisa pembakaran hutan memicu peradangan pada organ penglihatan. Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak menggosok mata saat terasa perih karena berisiko memicu infeksi lanjutan.
“Paparan asap dan partikel debu juga menyebabkan iritasi pada mata, karena itu masyarakat diimbau untuk menghindari paparan asap dan tidak menggosok mata ketika terasa perih atau gatal,” imbaunya.
Menanggapi krisis kesehatan ini, pemerintah daerah bersama Kemenkes terus menyalurkan bantuan fasilitas kesehatan darurat. Di Provinsi Riau, sedikitnya 10 unit rumah oksigen telah disiagakan untuk membantu warga yang mengalami sesak napas.
Kemenkes menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan keterjangkauan dan kemudahan jangkauan pasokan oksigen bersih bagi masyarakat yang membutuhkan secara cepat dan tepat sasaran.(dhil/dtk)









