Koranindopos.com – JAKARTA — Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Global Tuberculosis Report World Health Organization (WHO), Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TBC dunia dan diperkirakan mencatatkan lebih dari satu juta kasus baru dengan 134.000 kematian setiap tahunnya.
Data Kementerian Kesehatan RI memperkirakan setiap satu menit terdapat dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Guna menekan laju penularan dan mempercepat eliminasi TBC pada 2030, perluasan akses deteksi dini menjadi strategi vital. Dalam penanggulangan tersebut, penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) CAD4TB® (Computer-Aided Detection for Tuberculosis) besutan Delft Imaging dilaporkan telah berhasil menjangkau lebih dari 2 juta orang di Indonesia sejak 2020. Perangkat lunak ini membantu tenaga medis mengidentifikasi indikasi TBC melalui analisis citra rontgen dada secara cepat dan presisi.
Guru Besar sekaligus Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Konsultan Infeksi Paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menjelaskan bahwa tantangan utama penanggulangan TBC di tanah air tidak hanya bersumber dari besarnya angka penderita, melainkan juga banyaknya kasus yang belum terdeteksi (undiagnosed cases).
Banyak masyarakat belum menyadari gejala klinis awal atau terkendala akses ke fasilitas kesehatan, sehingga memperbesar risiko penularan di lingkungan sekitar.
“Skrining aktif sangat penting untuk menemukan kasus lebih dini, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti kontak erat pasien TBC, penderita HIV, anak-anak, lansia, serta individu dengan daya tahan tubuh lemah,” kata Prof. Erlina.
Pemanfaatan AI seperti CAD4TB dinilai mampu memangkas waktu analisis rontgen dada dan menjadi solusi efektif di daerah yang mengalami keterbatasan jumlah dokter spesialis radiologi. Meski demikian, Prof. Erlina menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu penapisan awal, sedangkan diagnosis final tetap memerlukan pemeriksaan konfirmasi lanjutan seperti tes dahak molekuler.
CEO sekaligus pendiri Delft Imaging, Guido Geerts, mengungkapkan komitmen jangka panjangnya dalam mendukung program eliminasi TBC nasional di Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, penyedia layanan kesehatan, hingga sektor swasta.
“Tuberkulosis masih berdampak pada ratusan ribu keluarga di Indonesia setiap tahunnya. Eliminasi TBC membutuhkan inovasi berkelanjutan, kolaborasi yang erat, serta komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil,” ujar Guido.
Guido menambahkan bahwa kemitraan ini memiliki ikatan emosional tersendiri baginya mengingat sang ibu lahir di Indonesia. Hal tersebut memperkuat komitmen perusahaan untuk mendukung transfer pengetahuan, penguatan kapasitas tenaga medis lokal, dan penyediaan infrastruktur skrining yang mudah dijangkau masyarakat.
Penerapan teknologi skrining berbasis AI terbukti meningkatkan tingkat penemuan kasus secara signifikan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan eliminasi TBC tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengikuti skrining, melainkan dari keberlanjutan alur penanganan medis.
Langkah mitigasi komprehensif yang diperlukan meliputi:
-
Pemeriksaan Konfirmasi: Memastikan setiap individu dengan hasil skrining reaktif segera mendapatkan pemeriksaan diagnostik laboratorium lanjutan.
-
Jaminan Akses Pengobatan: Memastikan ketersediaan Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) dan kepatuhan pasien dalam menyelesaikan masa pengobatan.
-
Pendampingan Pasien: Memberikan pengawasan berkesinambungan untuk mencegah munculnya kasus TBC kebal obat (Drug-Resistant TB).
Integrasi antara teknologi digital, kecukupan sarana diagnostik, dan sinergi lintas lembaga menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghentikan rantai penularan TBC secara berkelanjutan.(Dhil)









