koranindopos.com – Turki. Sebagian warga terutama korban gempa Turki tidak menyambut baik kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke sejumlah lokasi gempa pada Kamis (9/2/2023), tiga hari setelah bencana terjadi.
Sejumlah warga menganggap respons pemerintah terhadap situasi pasca-gempa lambat. Beberapa mengklaim bantuan pemerintah bahkan baru datang 12 jam setelah gempa terjadi pada Senin dini hari (6/2/2023).
Beberapa warga juga menganggap lawatan Erdogan ke lokasi gempa dilakukan demi menarik simpati publik menjelang pemilihan umum Mei mendatang. Erdogan memang mencalonkan diri lagi sebagai presiden Turki, jabatan yang sudah ia pegang sejak 2014. ”Jangan datang ke sini untuk meminta suara. Kami sangat terluka karena tidak ada yang membantu kami,” terang Hakan Tanriverdi, warga Provinsi Adiyaman yang merupakan salah satu wilayah paling terdampak gempa magnitudo 7,7.
Tak hanya Tanriverdi, penduduk Adiyaman lainnya, Mehmet Yildirim, juga mengeluh tim penyelamat tidak segera datang dan menyelamatkan orang-orang yang masih terjebak di bawah puing reruntuhan di jam-jam kritis usai gempa terjadi. ”Saya tidak melihat siapa pun datang sampai Senin pukul 14.00 waktu setempat pada hari kedua usai gempa terjadi,” kata Yildirim kepada AFP pada Kamis (9/2).
Kekecewaan juga terpancar dari seorang sukarelawan, Hediye Kalkan. Ia mengaku melakukan perjalanan hampir 150 kilometer untuk membantu upaya penyelamatan korban gempa di Adiyaman. ”Mengapa negara tidak menunjukkan dirinya pada hari-hari seperti ini? Orang-orang mengevakuasi jasad kerabat dan keluarga mereka yang menjadi korban dengan tangan mereka sendiri,” ujar Kalkan.
Meski begitu, pihak berwenang menegaskan telah semaksimal mungkin melakukan evakuasi dan penyelamatan di tengah cuaca dingin ekstrem bersalju, medan yang sulit, hingga alat serta tenaga manusia yang terbatas. Area terdampak gempa yang sangat luas di mana jumlah bangunan yang runtuh mencapai belasan ribu pun membuat tim SAR kewalahan melakukan evakuasi dan penyelamatan. (cnni/mmr)










