
JAKARTA, koranindopos.com – Dedi Mulyadi boleh saja posisinya dalam struktur partai kalah oleh Airlangga Hartarto. Dia merupakan anak buah Airlangga yang sejak 2020 lalu terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Namun, tidak demikian dengan tingkat keterpilihan sebagai calon presiden (capres). Menurut survei Indikator Politik Indonesia, Dedi berada di urutan ke-9, sedangkan Airlangga jauh di bawahnya yaitu di urutan ke-29.
Indikator mengajukan pertanyaan siapa yang dipilih oleh masyarakat menjadi presiden jika pilpres dilakukan saat ini. Nama Dedi yang dipilih responden membuatnya menempati urutan ke-9 dengan persentase 1.0 persen. Sedangkan, bosnya di Partai Golkar, Airlangga, berada di posisi ke-29 dengan persentase dipilih responden sebesar 0,1 persen. Hasil ini diperoleh Indikator Politik Indonesia dari survei yang dilakukan terhadap masyarakat berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dengan metode multistage random sampling pada 6-11 Desember 2021.
Politikus senior Partai Golkar Melchias Markus Mekeng mengakui bahwa Dedi Mulyadi memang intens melakukan publikasi di media sosialnya dengan terjun langsung ke masyarakat. Salah satunya melihat fenomena-fenomena yang ada di masyarakat, sehingga tidak ada sekat antara dirinya dengan masyarakat. “Kalau saya melihat Dedi Mulyadi di top of mind itu tinggi ya, kita semua tahu dia publikasi di media sosial cukup bagus, dan masyarakat senang dengan gaya yang dilakoni oleh Dedi Mulyadi dengan merangkul masyarakat,” ujar dia, belum lama ini.
Mekeng menilai gaya yang ditampilkan rekannya itu membuatnya teringat dengan gaya Joko Widodo pada 2014 silam yang ingin menjadi calon presiden. “Jadi ini yang sebetulnya diinginkan oleh masyarakat yakni pemimpin seperti Pak Jokowi muncul waktu 2014 kan modelnya seperti itu, nah Dedi Mulyadi juga modelnya seperti itu,” kata dia. Karena itu, Mekeng berpesan kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan juga tokoh-tokoh lainnya untuk bisa berbenah diri menaikkan elektabilitasnya.
Mekeng meyakini Indikator Politik Indonesia adalah lembaga yang kredibel dan tidak bisa dibayar hanya karena pesanan tertentu. “Jadi orang-orang di bawahnya Dedi nggak boleh kebakaran jenggot karena ini realita dan saya yakin Burhanuddin Muhtadi tidak bisa dibayar dengan model-model begitu,” tuturnya. Karena itu, jika ada pihak yang ingin jadi pemimpin tapi elektabilitasnya saat ini masih di bawah, maka harus merubah gaya supaya bisa naik ke atas. “Semuanya termasuk Pak Airlangga, karena ini fakta,” lanjut Mekeng.(hai)









