koranindopos.com – Jakarta, Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mempertanyakan lambatnya penyerapan anggaran pendidikan yang telah ditetapkan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hingga akhir tahun ini, penyerapan anggaran tersebut baru mencapai sekitar 15 persen. Hal ini dinilai mengkhawatirkan, mengingat banyaknya permasalahan di sektor pendidikan yang perlu segera ditangani.
“Jangan sampai ada kesengajaan penyerapan anggaran pendidikan dibikin lambat, hanya terserap sekitar 15 persen. Padahal, problematika terkait pendidikan masih sangat banyak. Misalnya, penataan sarana dan prasarana pendidikan, seperti rehabilitasi gedung sekolah yang dari tahun ke tahun masih menjadi masalah,” ujar Cucun setelah rapat kerja Banggar DPR RI dengan Menteri Keuangan di ruang rapat Banggar, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
Cucun menyoroti adanya ketimpangan fasilitas antara sekolah-sekolah di bawah kedinasan dengan sekolah-sekolah umum, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, sekolah-sekolah kedinasan memiliki fasilitas yang jauh lebih baik, sementara sekolah umum dan perguruan tinggi, yang perannya sangat penting dalam mencerdaskan masyarakat, hanya mendapatkan anggaran yang relatif kecil. Hal serupa juga terjadi pada pendidikan keagamaan seperti pesantren.
“Bayangkan, satu anggaran kedinasan bisa mencapai triliunan, sementara beberapa perguruan tinggi hanya mendapatkan ratusan miliar. Ini tentu menimbulkan kecemburuan di masyarakat. Pemerintah harus berani berinvestasi lebih besar di sektor pendidikan. Bahkan, memberikan beasiswa kepada ribuan anak bangsa untuk belajar ke luar negeri bukanlah ide yang buruk, dengan syarat mereka harus kembali ke tanah air dan berkontribusi pada pembangunan Indonesia,” jelas politisi dari Fraksi PKB ini.
Cucun menilai bahwa perlu ada keseriusan dari pemerintah untuk menata ulang skema anggaran pendidikan. Ia mengusulkan adanya grand design yang melibatkan kolaborasi antara tiga stakeholder utama, yakni Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan, dan Bappenas. Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk memperbaiki skema mandatory spending 20 persen dari anggaran pendidikan, sehingga tercipta keadilan di sektor pendidikan dan pada akhirnya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut Cucun, perencanaan anggaran yang lebih baik dan eksekusi yang lebih tepat waktu sangat penting untuk memastikan bahwa alokasi anggaran pendidikan tidak hanya terserap secara optimal, tetapi juga digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dan keagamaan. (hai)
Instant win games deliver a result immediately with no spinning reels or dealt cards. Scratch cards, crash games and quick draw titles all share that structure, appealing to players who want short sessions rather than extended play at a single game.
Games That Resolve Immediately
Return percentages on instant titles often sit below those of mainstream slots, though the format makes stakes and outcomes unusually transparent. Players comparing what is available across operators can Slotlair casino and review return figures by category. Crash games in particular reward a predetermined exit point, since the decision to cash out belongs entirely to the player.
| Game Type | Session Length |
|---|---|
| Scratch card | Seconds |
| Crash | Under a minute |
| Quick draw | 1 to 2 minutes |
- Check published return percentages before playing
- Decide a cash out point in advance on crash titles
Because each round takes seconds, the number of rounds in a session climbs faster than most players notice. Counting rounds is therefore more useful than watching a balance. Keep the session short, which is what the format is actually designed for.










