koranindopos.com – Jakarta. Sebanyak 53 siswa SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, terinfeksi cacar air. Wabah yang terjadi ini mendorong pihak sekolah untuk melakukan “lockdown” sementara, dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menyatakan bahwa kasus cacar air pada anak belakangan ini memang mengalami peningkatan. “Ya, ada peningkatan kasus cacar air,” ujarnya. Namun, menurut dr. Piprim, peningkatan kasus ini tidak diimbangi dengan cakupan vaksinasi yang memadai. “Vaksinasi cacar air belum menjadi bagian dari program vaksinasi nasional, sehingga hanya anak-anak yang mendapatkan vaksin di layanan swasta yang terlindungi,” tambahnya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr. dr. Anggraini Alam, SpA(K), mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan cacar air. Menurutnya, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak dengan sistem imun yang lemah. “Jika disepelekan, cacar air bisa menyebabkan komplikasi seperti infeksi bakteri pada kulit, infeksi paru-paru (pneumonia), hingga penurunan kesadaran,” ungkap dr. Anggraini.
Anak-anak di bawah usia 10 tahun disebut lebih rentan terinfeksi, termasuk bayi yang belum menerima vaksin varicella.
IDAI menegaskan pentingnya vaksinasi sebagai langkah pencegahan agar wabah cacar air tidak terus meningkat. Sementara vaksin cacar air belum menjadi bagian dari vaksinasi nasional, IDAI berharap agar masyarakat yang mampu mempertimbangkan pemberian vaksin cacar air untuk anak-anak mereka melalui layanan swasta.
Dengan penutupan sementara SMP Negeri 8 Tangerang Selatan dan penerapan PJJ, pihak sekolah berharap dapat segera memutus rantai penularan cacar air.(dhil)










