Koranindopos.com, Bogor – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda, khususnya di wilayah Bogor, memiliki tradisi unik yang disebut cucurak. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk silaturahmi dengan makan bersama, saling memaafkan, dan mempererat hubungan antar teman, saudara, serta tetangga. Dengan demikian, umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan tanpa dosa.
Cucurak di Era Modern
Di tengah perkembangan zaman, tradisi cucurak tetap bertahan dan berkembang. Masyarakat terus menjaga budaya ini sebagai bagian dari warisan leluhur yang berharga. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana warga Perumahan Pesona Cilebut Dua, RT 002 RW 015, Cilebut Barat, Bogor, Jawa Barat, masih melaksanakan tradisi ini dengan penuh semangat.

Dalam acara tersebut, seluruh warga RT 02 berkumpul di lapangan “Kampoeng Doea”. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua turut serta dalam perayaan ini. Mereka menikmati kebersamaan dengan makan bersama, bersilaturahmi, dan bersalam-salaman sebagai bentuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan Ramadan.
Menjaga Tradisi Agar Tetap Lestari
Ketua RT 02, Purnama Syarif menyampaikan bahwa tradisi cucurak di lingkungannya diadakan setiap tahun sebagai upaya untuk terus melestarikan budaya ini.
“Tradisi cucurak menjadi momen kebersamaan dan sebagai ajang silaturahmi antar warga, utamanya untuk saling memaafkan menjelang puasa Ramadan,” ujar Purnama.
Tradisi cucurak, tambah Purnama bukan sekadar acara makan bersama, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, kegiatan seperti ini menjadi penting untuk menjaga rasa kebersamaan dan solidaritas antarwarga.
Dengan semangat yang terus dijaga, cucurak bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda. Semoga tradisi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang, pungkas Purnama (doe)










