Koranindopos.com – JAKARTA – PT BYD Motor Indonesia semakin mempertegas komitmennya untuk mengembangkan industri kendaraan listrik nasional. Perusahaan asal Tiongkok tersebut telah memulai impor komponen sebagai bagian dari persiapan operasional pabrik mobil listrik yang berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Langkah ini menjadi penanda bahwa fasilitas manufaktur BYD telah memasuki fase akhir pembangunan. Selain mendatangkan komponen produksi, perusahaan juga mulai menjalankan uji coba proses manufaktur guna memastikan seluruh sistem berjalan sesuai standar sebelum produksi massal dimulai.
Pabrik yang dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp11,2 triliun itu dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150 ribu unit kendaraan listrik per tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat produksi kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Presiden PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengungkapkan bahwa perusahaan telah memperoleh sertifikasi penting dari pemerintah sejak akhir 2025. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu persyaratan utama agar kendaraan yang diproduksi di Indonesia memenuhi standar kualitas global yang diterapkan BYD.
Menurutnya, setelah sertifikasi diperoleh, perusahaan langsung memasuki tahap pengujian dan penyelarasan proses produksi pada kuartal pertama 2026. Tahapan ini mencakup berbagai pengujian teknis untuk memastikan seluruh lini produksi mampu menghasilkan kendaraan dengan kualitas yang konsisten.
Selain menyiapkan fasilitas produksi, BYD juga melakukan perekrutan tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Sekitar 3.000 pekerja diproyeksikan akan mengisi berbagai divisi produksi, mulai dari proses stamping, painting, hingga perakitan kendaraan.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa proses persiapan manufaktur membutuhkan waktu karena setiap tahapan harus melalui pengujian secara menyeluruh. Menurutnya, kualitas kendaraan menjadi prioritas utama sebelum produk dipasarkan kepada konsumen.
Ia menegaskan bahwa seluruh kendaraan yang diproduksi di pabrik Subang harus memenuhi standar kualitas BYD secara penuh, sehingga proses validasi dan penyempurnaan produksi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Meski sebelumnya perusahaan menargetkan produksi dimulai pada kuartal pertama 2026, hingga kini jadwal resmi dimulainya produksi massal masih belum diumumkan. Namun demikian, manajemen memastikan proses persiapan terus berjalan sesuai rencana.
Eagle Zhao menyampaikan bahwa BYD ingin secepat mungkin menghadirkan kendaraan listrik berlabel “Made in Indonesia”. Ia meminta masyarakat untuk bersabar sembari menunggu pengumuman resmi mengenai dimulainya produksi massal di pabrik Subang.
Dengan beroperasinya pabrik tersebut nantinya, BYD tidak hanya memperluas investasi di Indonesia, tetapi juga berpotensi meningkatkan penyerapan tenaga kerja, memperkuat rantai pasok industri otomotif nasional, serta mendukung percepatan transisi menuju ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.(dhil/suaraflores)










