Koranindopos.com, Jakarta – Film-film yang sebelumnya beredar di festival internasional akan mendapat ruang pemutaran lebih luas di Indonesia. Cinépolis Cinemas Indonesia bersama KlikFilm menyiapkan dua program, yakni Malang World Cinema pada November 2026 dan Sala de Arte yang mulai tayang reguler pada Oktober ini.
Kedua program tersebut menyasar penonton yang ingin mengenal beragam karya sinema dunia, termasuk film pemenang festival, dokumenter, dan film dari sineas independen. Pemutarannya tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi juga menjangkau Depok, Yogyakarta, Semarang, Malang, dan Medan.
Malang World Cinema dijadwalkan berlangsung pada 14–21 November 2026 di Cinépolis Malang Town Square. Ini menjadi penyelenggaraan pertama Jakarta World Cinema dengan nama tersebut di Malang, setelah Jakarta World Cinema 2026 menghadirkan 207 film dari 69 negara.
Sejumlah film yang masuk dalam program Malang World Cinema antara lain Fjord karya Cristian Mungiu, Minotaur karya Andrey Zvyagintsev, serta All of a Sudden garapan Ryūsuke Hamaguchi. Ketiganya memiliki catatan penghargaan di Festival Film Cannes 2026.
Penonton juga dapat menyaksikan The Debut yang disutradarai Jesse Eisenberg, NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, serta Woman Unknown garapan May el-Toukhy. Woman Unknown meraih Golden Lion di Festival Film Venesia 2026, sedangkan NAZA memperoleh Special Jury Prize dari festival yang sama.
Film Yellow Letters karya Ilker Çatak juga masuk dalam rangkaian pilihan program ini, tetapi penayangannya tersedia melalui KlikFilm. Film tersebut meraih Golden Bear untuk Film Terbaik di Festival Film Internasional Berlin 2026.
Festival Director Malang World Cinema, Shandy Gasella, mengatakan festival ini disiapkan untuk memberi kesempatan kepada penonton di Malang menikmati film-film dari berbagai negara melalui layar bioskop.
“Malang World Cinema hadir untuk memberikan pengalaman sinematik yang utuh bagi publik Malang melalui keberagaman perspektif sinema dunia. Kami memboyong ratusan karya terpilih, mulai dari pemenang festival bergengsi hingga film-film perwakilan Oscar, agar penikmat film di daerah dapat merasakan langsung denyut dan dinamika kultur sinema global di bioskop,” kata Shandy.
Direktur KlikFilm sekaligus Executive Director Malang World Cinema, Frederica, menyebut perluasan program ke luar Jakarta menjadi bagian dari upaya membangun ruang apresiasi film yang berkelanjutan.
“Kolaborasi ini merupakan langkah nyata KlikFilm untuk terus mendekatkan sinema berkualitas kepada masyarakat Indonesia secara lebih merata. Lewat Malang World Cinema dan Sala de Arte, kami tidak hanya membawa film-film kurasi terbaik dari festival internasional ke layar lebar, tetapi juga ingin menghidupkan ekosistem apresiasi film yang konsisten dan berkelanjutan di luar Jakarta,” ujarnya.
Di luar festival, Cinépolis dan KlikFilm juga memperkenalkan Sala de Arte sebagai program pemutaran rutin film pilihan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan di Meksiko pada Juni 2012 dan berkembang sebagai ruang bagi film alternatif, film klasik, dokumenter, serta karya yang tampil di festival internasional.
CEO Cinépolis Cinemas Indonesia, Alejandro Aguilera Garibay, mengatakan program tersebut diharapkan dapat memberi tempat bagi film pilihan dunia di bioskop Indonesia dalam jangka panjang.
“Kami percaya penonton Indonesia berhak menikmati sinema dunia dengan standar yang sama baiknya di mana pun mereka berada. Malang World Cinema membuka pintu lewat sebuah festival, dan kami ingin pintu itu tetap terbuka dalam jangka panjang. Itulah semangat Sala de Arte, yang sejak 2012 kami jalankan di Meksiko dan kini kami bawa ke Indonesia, agar film-film pilihan dunia selalu punya tempat di layar bioskop. Kami senang bisa memulainya bersama KlikFilm,” kata Alejandro.
Rangkaian awal Sala de Arte akan dimulai dengan pemutaran maraton pada 15 Oktober 2026. Tiga film yang diputar berurutan adalah Sheep in the Box, Aftersun, dan NAZA. Tiket untuk ketiga film tersebut dijual dengan harga Rp60.000 dan mulai tersedia pada 9 Oktober 2026 melalui situs Cinépolis.
Sheep in the Box merupakan film terbaru Hirokazu Kore-eda yang masuk kompetisi utama Festival Film Cannes 2026. Ceritanya mengikuti pasangan suami istri yang kehilangan anak, kemudian menerima humanoid yang memiliki wajah dan suara serupa dengan putra mereka. Film ini dibintangi Haruka Ayase, Daigo, dan Rimu Kuwaki.
Sementara itu, Aftersun garapan Charlotte Wells dibintangi Paul Mescal dan Frankie Corio. Film ini mengambil latar liburan di sebuah resor di Turki pada era 1990-an dan mengikuti hubungan seorang ayah dengan putrinya.
Film ketiga, NAZA, disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor. Karya tersebut sebelumnya meraih Special Jury Prize di Festival Film Venesia 2026 dan diputar khusus dalam acara pengumuman program di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, pada 8 Oktober 2026.
Pemutaran maraton Sala de Arte berlangsung di enam bioskop, yaitu Cinépolis Senayan Park di Jakarta, Depok Town Square di Depok, Lippo Plaza Jogja di Yogyakarta, Malang Town Square di Malang, Java Supermal di Semarang, dan Lippo Plaza Medan di Medan.
Mulai 16 Oktober 2026, program tersebut berlanjut ke jadwal pemutaran reguler di lokasi yang sama. Adapun jadwal lengkap dan informasi tiket Malang World Cinema akan diumumkan melalui kanal resmi Cinépolis, Malang World Cinema, dan KlikFilm. (BRG/Kul)










