Koranindopos.com, JAKARTA – Nama Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) dalam literasi sejarah pendidikan tanah air, termasuk salah satu lembaga pendidikan tertua. Sekolah yang terletak di Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Jawa Tengah, itu didirikan oleh K.H. Muhammad Habib pada 1878 Masehi/ 1296 H.

Kini, alumnus telah bertransformasi dan berkiprah di berbagai bidang. Nama-nama besar telah menduduki posisi strategis di pemerintahan, politik nasional, sampai sektor bisnis mancanegara. Mereka tergabung di dalam forum Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI). Debut mereka dalam berkontribusi terhadap almamater cukup signifikan. Salah satunya menginisiasi pembentukan Kamawi Farm. Itu merupakan peternakan seluas 5.000 meter persegi di Desa Binangun, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.
Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat (PP) IKAPMAWI Didin Muslichufin menjelaskan, Kamawi Farm sebagai entrepreneurship incubator yang digagas alumnus untuk berkontribusi terhadap almamater, sekaligus turut mendukung ketahanan pangan nasional. ”Itu sebagai embrio kewirausahaan bagi alumnus. Skema investasinya berupa saham. Contohnya, kami ingin mengembangbiakkan 100 ekor kambing. Maka, kami open bidding. Siapa saja alumnus yang berminat, silahkan. Nanti harga per ekor itu yang dirupakan sebagai saham. Maka nanti para investor mendapatkan bagi hasil,” beber Didin, ditemui setelah Halalbihalal Idul Fitri 2026 IKAPMAWI Wilayah Jabodetabek di Parung, Bogor, Jawa Barat pada Minggu (19/4/2026).
Didin yang merupakan alumni tahun 1991 tersebut menerangkan, selain itu, kiprah IKAPMAWI dalam berkontribusi terhadap almamater di antaranya ada tiga hal. Pertama turut serta dalam pembangunan asrama, kedua membuat program IKAPMAWI Peduli Yatim Piatu, dan ketiga menginisiasi forum entrepreneurship sekaligus sharing session bersama alumnus. ”Support untuk asrama dari alumnus sekitar Rp 800 jutaan. Sedangkan program IKAPMAWI Peduli Yatim Piatu adalah membiayai pendidikan 115 peserta didik berstatus yatim piatu,” ungkap Didin.
Untuk forum entrepreneurship sekaligus sharing session, lanjut Didin, pihaknya menghadirkan praktisi langsung di kelas. Mereka adalah para alumnus yang sukses. Salah satu contohnya, kegiatan seminar bertajuk Career Plan and Upgrade Self Value pada Jumat (17/4/2026) lalu. Seminar tersebut menghadirkan pemateri inspiratif Estria Solihatun Nurjannah, M.Pd. ”Itu sebagai sarana transfer knowledge dan pengalaman kepada adik-adik yang masih aktif sebagai pelajar,” kata Didin, menambahkan.

Sementara itu, sambung Didin, secara nasional jumlah alumni yang tergabung di dalam organisasi tersebut tercatat sekitar 10 ribu orang. Mereka berasal dari lintas generasi dengan rentang angkatan 1985–2025. Meski demikian, belum semua angkatan memiliki perwakilan aktif. ”Kami data mulai 1985 sampai saat ini. Sedangkan alumnus sebelum angkatan 1985 tidak kita cantumkan di dalam struktur organisasi karena sudah sepuh,” tutur Didin.

Saat ini, lanjut Didin, tercatat ada 15 pengurus wilayah secara nasional. Itu tersebar di antaranya di Jogjakarta, Cilacap, Lampung, Jakarta (Jabodetabek), Purbalingga, dan Banjarnegara. Halalbihalal tahun ini diselenggarakan di rumah salah satu pengurus pusat, yakni Agus Saeful Mujab di Parung, Bogor, Jawa Barat. Beberapa pengurus pusat juga tampak hadir. Kegiatan tahunan tersebut diikuti sekitar 50 an alumni. Mereka berasal dari Karawang, Bekasi, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Bogor. (Unsiyah Sangidah/*)










