koranindopos.com – Jakarta, Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir menyampaikan kekhawatirannya atas kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan oleh Amerika Serikat (AS) pada 2 April lalu. Dalam pernyataannya pada peringatan Liberation Day, Adies menyebut kebijakan tersebut sebagai awal dari babak baru perang dagang dunia versi 2.0.
Setidaknya 180 negara, termasuk Indonesia, terdampak oleh kebijakan ini. AS menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen dan tarif tambahan hingga 32 persen terhadap sejumlah produk ekspor, termasuk dari Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menurunkan daya saing produk-produk ekspor Indonesia di pasar Amerika.
“Langkah-langkah segera perlu diambil untuk menjaga kelangsungan produksi dan kapasitas industri ekspor, serta menghindari potensi pemutusan hubungan kerja akibat menurunnya volume penjualan,” ujar Adies dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Minggu (6/4).
Produk-produk yang paling terdampak di antaranya adalah elektronik, tekstil, alas kaki, kelapa sawit, karet, furnitur, udang, dan hasil perikanan laut. Adies menyarankan agar pemerintah segera melakukan negosiasi dengan AS atau mencari pasar alternatif guna menjaga keberlanjutan sektor ekspor nasional.
Selain itu, Adies menyoroti potensi limpahan (spill over) produk asing dari negara-negara terdampak ke pasar Indonesia. Ia meminta pemerintah segera menyiapkan langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya banjir impor yang dapat memukul industri dalam negeri.
“Kami di DPR RI juga mendukung penuh langkah-langkah mitigasi risiko terhadap potensi instabilitas keuangan jangka pendek. Pemerintah perlu menyampaikan narasi dan komunikasi kebijakan yang jelas kepada pelaku pasar untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Menurutnya, fluktuasi pasar akibat kebijakan tarif AS dapat berdampak pada pelemahan rupiah, penurunan harga saham, kekeringan likuiditas antar bank, serta kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN). Oleh karena itu, komunikasi terpadu dan kebijakan yang konsisten diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor.
Adies juga mengapresiasi respons cepat pemerintah terhadap kebijakan tarif AS dan mendorong penguatan kerja sama ekonomi regional, khususnya dengan negara-negara ASEAN, BRICS, serta OECD. Ia menekankan pentingnya diplomasi dan negosiasi bilateral untuk menjaga hubungan baik dengan mitra dagang utama, termasuk AS.
Tak hanya itu, Adies mendukung penuh arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Kabinet Merah Putih untuk melakukan reformasi struktural, termasuk penyederhanaan regulasi dan penghapusan hambatan non-tarif demi meningkatkan iklim investasi.
“Langkah-langkah strategis tersebut sangat penting untuk menghadapi dinamika global dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Adies.
Diketahui, kebijakan tarif AS telah memicu respons balasan dari sejumlah negara seperti Tiongkok, Kanada, Meksiko, dan negara-negara Uni Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengimbau pelaku usaha Eropa untuk menunda investasi langsung ke AS. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan risiko ketidakpastian ekonomi global dan memicu inflasi serta resesi di Amerika Serikat, yang pada akhirnya juga akan berdampak pada perekonomian Indonesia dan negara lain. (hai)










