Koranindopos.com – Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah provinsi, khususnya di Pulau Kalimantan. Menurutnya, bencana ekologis tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat kabut asap, tetapi juga mengancam keberlangsungan flora dan fauna endemik Indonesia.
“Karhutla tidak hanya menimbulkan kabut asap dan mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan berbagai flora dan satwa endemik yang menjadi kekayaan alam Indonesia,” kata Rajiv dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).
Rajiv menegaskan Kalimantan merupakan salah satu wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati penting di dunia. Pulau tersebut menjadi habitat bagi berbagai spesies langka dan endemik Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah burung rangkong, bekantan, orangutan, pohon ulin, hingga berbagai spesies anggrek yang keberadaannya dapat semakin terancam apabila kebakaran hutan terus terjadi.
Rajiv mengatakan dampak karhutla terhadap satwa tidak hanya berupa kematian secara langsung akibat kobaran api. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri juga menghadapi ancaman lain setelah kehilangan habitat dan sumber makanan.
“Bayangkan, Pulau Kalimantan memiliki banyak flora dan fauna langka, ketika hutan terbakar, maka yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga sumber makanan, air dan akhirnya habitat hilang sehingga satwa endemik dan kekayaan genetik kita berpotensi musnah,” ujarnya.
Menurut dia, kerusakan hutan membuat satwa yang selamat terpaksa berpindah ke wilayah lain untuk mencari makanan dan tempat berlindung.
Kondisi tersebut dapat mendorong satwa masuk ke kawasan perkebunan, hutan sekunder, bahkan permukiman penduduk. Pergerakan satwa ke wilayah manusia kemudian berpotensi meningkatkan risiko konflik antara satwa liar dan masyarakat.
“Kita harus mengantisipasi dan melakukan mitigasi keberadaan satwa yang selamat dan keluar menuju kawasan perkebunan, hutan sekunder, atau permukiman, karena risiko konflik antara satwa dan manusia semakin meningkat,” kata politikus Partai NasDem tersebut.
Rajiv menilai upaya pemulihan kawasan yang terdampak karhutla tidak cukup hanya dilakukan dengan menanam kembali pohon.
Menurutnya, hutan memiliki fungsi ekologis yang kompleks dan membutuhkan waktu panjang untuk kembali menjalankan fungsi tersebut. Karena itu, penanganan karhutla perlu diarahkan pada upaya pencegahan dan mitigasi yang lebih permanen.
Ia meminta pemerintah mengubah pendekatan penanganan karhutla agar tidak hanya bersifat reaktif setelah kebakaran terjadi.
Pencegahan, kata Rajiv, harus dilakukan berdasarkan pemetaan risiko dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pemegang konsesi, masyarakat hingga masyarakat adat.
Rajiv mendorong pemerintah membangun sistem komando terpadu yang mampu menghubungkan seluruh pihak dalam penanganan karhutla.
“Pemerintah perlu membangun sistem komando terpadu yang menghubungkan seluruh stakeholders. Setiap titik panas harus segera diverifikasi di lapangan, ditelusuri sumbernya, dan ditangani sebelum berubah menjadi kebakaran besar,” tuturnya.
Menurut Rajiv, keberadaan titik panas (hotspot) harus menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini. Deteksi yang dilakukan lebih cepat dapat memungkinkan penanganan sebelum api meluas dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.
Pendekatan tersebut juga dinilai dapat membantu mengurangi dampak terhadap masyarakat, lingkungan, serta habitat satwa liar.
Selain memperkuat pencegahan kebakaran, Rajiv meminta aspek perlindungan satwa dimasukkan ke dalam setiap rencana penanganan karhutla.
Menurutnya, kawasan habitat penting yang berada di luar kawasan konservasi juga membutuhkan perlindungan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan koridor ekologis, penetapan areal preservasi, serta kerja sama dengan pemegang konsesi dan masyarakat sekitar.
Langkah tersebut diperlukan agar satwa yang terdampak kebakaran memiliki ruang untuk bertahan dan berpindah tanpa harus masuk ke wilayah permukiman.
Dengan pendekatan yang lebih terpadu, penanganan karhutla diharapkan tidak hanya berfokus pada pemadaman api dan pengendalian kabut asap, tetapi juga menjaga ekosistem serta keanekaragaman hayati Indonesia.
Bagi Kalimantan, perlindungan terhadap hutan berarti menjaga habitat berbagai satwa dan flora langka yang menjadi bagian penting dari kekayaan alam Indonesia. Karena itu, pencegahan karhutla dinilai menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan hanya melakukan pemulihan setelah kerusakan terjadi.










