Koranindopos.com – Bekasi . Dunia musik Indonesia berduka dengan kehilangan salah satu sosok musisi yang peduli pada isu-isu sosial politik dan lingkungan hidup, Estu Pradhana Bramono, personil The Blackstones. Estu meninggal dunia di rumahnya di bilangan Jatiwarna, Jumat lalu, pada usia 46 tahun.
Musisi multitalenta ini terakhir tampil menggebrak di konser “Bongkar” untuk memperingati Hari Anti Korupsi dan HAM Sedunia di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 9 Desember. Kehadirannya dalam festival musik Amnesty International Indonesia di Pos Bloc, Pasar Baru, Jakarta, pada 3 Desember, turut menggambarkan komitmennya terhadap isu-isu kritis.
“Estu sering gelisah dengan situasi musik di Indonesia. Selain terus bermusik untuk isu-isu yang dipedulikannya, ia sedang berusaha mendorong adanya kebijakan arsip nasional tentang sejarah musik Indonesia. Ini adalah kehilangan besar bagi aktivis dan musisi,” ungkap Usman Hamid, vokalis The Blackstones yang juga aktivis hak asasi manusia.
Saat konser “Bongkar,” Estu bersama band The Blackstones mendukung musisi Fajar Merah, putra dari penyanyi Wiji Thukul, mantan vokalis Dewa Once Mekel, dan gitaris blues Gugun Blues Shelter. “Saya sangat berduka dan merasa kehilangan seorang teman musisi pejuang. Almarhum Estu layak dapat julukan itu,” ujar Once Mekel, yang juga maju sebagai Caleg dari PDIP untuk dapil Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Luar Negeri.
Estu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, kerabat, dan sahabatnya, termasuk sahabat dekatnya, Akbar Kelana. “Kepergian Estu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi keluarga, kerabat, dan sahabatnya,” kata Akbar di rumah duka.
Sejumlah karya musik Estu bersama The Blackstones, seperti “Kemanakah”, Larung”, dan “Rempang”, mencerminkan kepekaannya terhadap realitas sosial. Lagu-lagu ini dapat dinikmati melalui platform streaming seperti Spotify dan Apple Music.
“Bagi saya, Estu punya semangat dan idealisme luar biasa dalam bermusik dan juga pikirannya,” tambah Once Mekel. Estu meninggalkan istri, Anak Agung Rai Puspa Dewi, dan empat orang anak.
Dalam mengenang Estu, mari kita terus merayakan warisan musiknya yang tidak hanya menggetarkan telinga, tetapi juga menyuarakan perjuangan untuk hak asasi manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup.










