JAKARTA, koranindopos.com – Ajang balap mobil listrik Formula E (FE) di Jakarta berlangsung pada 4 Juni 2022. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengkaji dampak ekonomi penyelenggaraan ajang tersebut. Hasilnya, mereka mencatat, akumulasi dampak ekonomi langsung event itu sebesar Rp 597 miliar.
Kepala Pusat Makro dan Indef M. Rizal Taufikurahman menuturkan, dampak ekonomi sebesar Rp 597 miliar itu meliputi alokasi capital expenditure (capex) Rp 213 miliar. Capex adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membeli, memperbaiki, atau merawat aset jangka panjang demi keberlangsungan bisnis. Kemudian, operating expenditure (opex) Rp 112 miliar. Opex merupakan pengeluaran perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional. Lalu, commitment fee Rp 216 miliar, pembelian tiket dan pengeluaran pengunjung Rp 52,4 miliar, serta pendapatan UMKM Rp 4,54 miliar.
”Jadi, Rp 597 miliar itu angka akumulasi dari dampak ekonomi langsung. Proporsinya kami dapatkan dari komponen yang kami sebutkan tadi. Ini bukan dampak dalam satu hari ya, dari sepanjang awal pelaksanaan, persiapan, sampai pelaksanaan,’’ jelas Rizal kepada awak media.
Jika menghitung perputaran uang satu hari dalam pelaksanaan, dia mengatakan cukup melihat beberapa komponen saja. Yakni, pengunjung dan UMKM. ”Kalau perputaran uang yang hari itu saja, yang on the spot, UMKM Rp 4,54 miliar dan pengeluaran pengunjung Rp 30,2 miliar. Itu satu hari di luar biaya perusahaan. Kami nggak hitung kalau biaya perusahaan,’’ paparnya.
Selain dampak langsung, pihaknya menghitung dampak ajang itu terhadap tambahan produk domestik regional bruto (PDRB) DKI 2022. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu. ”Dampak Jakarta E-Prix terhadap PDRB DKI itu Rp 2,04 triliun,’’ terang Rizal.
Namun, lanjut dia, pihaknya juga menghitung multiplier effect ajang tersebut. ”Jadi, sebenarnya, kalau dalam konteks makro, produk domestik regional bruto yang di-create dari kegiatan itu besarannya naik 0,08 persen. Perekonomian Jakarta naik 0,08 persen dari satu event itu. Nah, kalau di-similar-kan dalam angka berdasar atas harga dasar konstan itu Rp 2,04 triliun dijumlahkan dengan dampak ekonomi langsung sebesar Rp 597 miliar, maka totalnya menjadi Rp 2,638 triliun. Itu dampak ekonomi totalnya. Jadi, total ekonomi yang diperoleh dari kegiatan itu Rp 2,638 triliun. Itu bukan untuk perusahaan, tetapi justru ke perekonomian Jakarta. Jadi, menggerakkan sektoral, menggerakkan UMKM gitu, ya. Kemudian, konsumsi masyarakat. Terus juga distribusinya terhadap pelaku-pelaku ekonomi. Itu dampak ekonomi simulasi untuk jangka pendek, satu tahun,’’ jelasnya.
Lebih lanjut, saat ditanya apakah ajang tersebut menguntungkan atau tidak, dia menyebutkan, pihaknya hanya menghitung dampak ekonomi. ”Kalau menguntungkan tidaknya, itu tanya Jakpro. Kami hanya menghitung dampak ekonomi. Jadi, apa dampak ekonomi totalnya dengan menghitung besaran dampak ekonomi langsung dan dampak terhadap tambahan PDRB DKI. Perhitungan kami dapat dari berbagai sumber. Mulai perhitungan kami sebenarnya UMKM, kemudian pengeluaran pengujung, ticketing, plus feasibility study terbaru yang dilakukan Jakpro,’’ terangnya. (wyu/mmr)










