koranindopos.com – Jakarta. Pemerintah Iran resmi membuka kembali jalur pelayaran energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, bagi kapal-kapal komersial. Keputusan ini diambil seiring berlakunya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari ke depan.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jalur pelayaran tersebut kini telah dibuka sepenuhnya untuk mendukung kelancaran aktivitas perdagangan global.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, terutama bagi distribusi minyak dan gas. Sebagian besar pasokan energi global melewati perairan ini, sehingga setiap gangguan dapat berdampak langsung pada harga energi dan stabilitas ekonomi internasional.
Dengan dibukanya kembali jalur ini, diharapkan arus distribusi energi dapat kembali normal setelah sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski telah dibuka, Iran menetapkan sejumlah ketentuan teknis bagi kapal yang melintas. Salah satunya adalah kewajiban mengikuti rute terkoordinasi khusus yang telah ditetapkan oleh otoritas maritim Iran.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan pelayaran sekaligus menjaga stabilitas selama masa gencatan senjata berlangsung.
Keputusan ini memberikan angin segar bagi pasar global, khususnya sektor energi dan logistik. Namun, situasi di kawasan masih dinilai rapuh, mengingat berbagai kepentingan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Meskipun jalur telah dibuka, bayang-bayang ketegangan, termasuk potensi intervensi dari negara lain, masih menjadi perhatian. Oleh karena itu, para pelaku industri dan pengamat internasional akan terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.
Pembukaan kembali jalur ini menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi dunia, sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika politik dapat secara langsung memengaruhi jalur perdagangan global.(dhil)










