koranindopos.com – JAKARTA. Persentase kehilangan air atau non revenue water (NRW) di Jakarta sangat besar. Berdasar data PAM Jaya, angkanya mencapai 46,67 persen. Secara ekuivalen rupiah, persentase tersebut sekitar Rp 2,5 triliun per tahun
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menuturkan, penurunan NRW sangat berdampak besar terhadap pendapatan PAM Jaya. ”Jadi 46 persen NRW ini secara ekuivalen rupiah bisa mencapai Rp 2,5 triliun per tahun,” kata Arief kepada awak media.
Secara umum, kata Arief, ada dua penyebab hal tersebut terjadi. Yakni, 80 persen karena kerusakan pipa dan 20 persen karena sambungan ilegal. ”Sambungan ilegal ini yang terus kami deteksi. Jadi, kalau ada masyarakat yang ketahuan nyambung ilegal, kami berikan sanksi. Saat ini law enforcement-nya sedang diperkuat,” kata Arief.
Sementara untuk kerusakan pipa, Arief menjelaskan ada berbagai penyebabnya. Terutama, karena pipa di Jakarta, tidak terkecuali pipa utama sudah memiliki umur yang sangat tua. Bahkan, Arief menyebutkan pipa tua itu sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
”Usia pipa kita ada yang lebih tua dari saya, saya usianya 50. Makanya, ada program yang saat ini sedang kita kaji untuk melakukan revitalisasi pipa di Jakarta secara keseluruhan. Tapi, saya masih berfikir ketika kita akan melakukan revitalisasi pipa secara keseluruhan, itu khawatirnya akan membuat kacau rencana pembangunan pipa baru,” terangnya.
Maka, lanjut Arief, tahun ini dia belum bisa menjelaskan target penurunan NRW dengan perbaikan pipa tua tersebut. Sebab, untuk tahun ini, mereka sedang fokus untuk pembangunan pipa baru untuk meningkatkan cakupan wilayah layanan.
”Kalau semuanya dikerjakan (perbaikan pipa tua dan pipa baru, Red) totalnya perlu 16 ribu sekian kilometer. Itu lalu lintas akan luar biasa macetnya karena pembangunan pipa yang sangat panjang,” jelasnya.
Meski tidak melakukan perbaikan pipa tua tahun ini, Arief menyebutkan akan mencoba menganalisis area per area yang dilayani pipa tua. Dengan begitu, mereka mengetahui pipa yang sangat tua ada di wilayah mana saja.
Lebih lanjut, Arief juga mengakui, kebocoran pipa tersebut menjadi salah satu penyebab PAM Jaya sampai saat ini tidak bisa disebut sebagai perusahaan air minum seperti namanya. ”Selain kebocoran pipa, jenis pipa yang tidak food grade yang masih digunakan masyarakat di dalam rumah juga menyebabkan sampai saat ini kita masih melayani air bersih, bukan air minum,” jelasnya. (wyu/mmr)















