Koranindopos.com, SURABAYA — Suasana Kota Surabaya yang panas dan sibuk seakan tertinggal ketika kaki mulai memasuki kawasan Ampel. Lorong-lorongnya ramai oleh peziarah. Pedagang menawarkan pakaian muslim, kitab, parfum dan aneka oleh-oleh.
Di antara kerumunan itu, aroma rempah dan makanan berpadu dengan lantunan doa dari kompleks Masjid Ampel.
Di kawasan inilah sejarah Islam di Surabaya seperti menemukan rumahnya.
Makam Sunan Ampel, salah satu tokoh Wali Songo, berada di kompleks Masjid Ampel, Jalan Petukangan I, Kecamatan Semampir.
Setiap hari, kawasan ini menjadi tujuan ribuan peziarah dari berbagai daerah. Mereka datang dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin berdoa, membaca Al-Qur’an, mengenang perjuangan Sunan Ampel, hingga sekadar menelusuri salah satu kawasan bersejarah di Kota Pahlawan.
Namun Ampel bukan hanya tentang makam. Ia adalah sebuah perjalanan.
Perjalanan yang membawa pengunjung dari ruang spiritual menuju lorong-lorong sejarah, dari masjid tua menuju pasar tradisional, hingga ke kehidupan masyarakat Kampung Arab yang telah menjadi bagian dari wajah Surabaya.
Di Balik Nama Besar Sunan Ampel
Sunan Ampel dikenal dengan nama asli Raden Ahmad Rahmatullah. Ia merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa.
Pada masanya, dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah. Pendidikan menjadi bagian penting dari strategi penyebaran ajaran Islam.
Sunan Ampel dikenal sebagai ulama dan pendidik. Kawasan Ampel berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan dan dakwah Islam yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa.
Warisan itulah yang hingga kini masih melekat pada kawasan Ampel.
Nama Sunan Ampel tidak hanya terukir dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup dalam ingatan masyarakat yang datang berziarah.
Makam Tanpa Kemegahan
Di tengah ramainya kawasan Ampel, kompleks makam justru menghadirkan suasana yang lebih teduh.
Peziarah duduk dengan tenang. Sebagian membaca doa, sebagian lainnya mengaji. Tak banyak suara percakapan terdengar.
Makam Sunan Ampel sendiri tampak sederhana. Tidak ada cungkup besar yang menaunginya. Makamnya terbuka, seolah memperlihatkan kesederhanaan yang menjadi bagian dari kisah sang wali.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah bentuk nisannya. Nisan tersebut tersusun dalam empat tingkat dan pada bagian ujungnya memiliki bentuk menyerupai daun teratai.
Di sekitar makam Sunan Ampel terdapat pula makam sejumlah tokoh yang dikenal masyarakat, antara lain Mbah Sholeh dan Mbah Bolong atau Mbah Sonhaji.
Bagi para peziarah, makam-makam tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan ketika berkunjung ke Ampel.
Masjid yang Menyimpan Jejak Berabad-abad
Beberapa langkah dari makam, berdiri Masjid Ampel. Masjid ini dipercaya dibangun pada 1421 dan menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Sunan Ampel.
Usianya yang telah melewati berabad-abad membuat masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Namun Masjid Ampel bukan sekadar bangunan bersejarah yang dikunjungi wisatawan.
Ia tetap hidup.
Orang-orang datang untuk melaksanakan salat. Aktivitas keagamaan berlangsung sebagaimana masjid pada umumnya. Hanya saja, di tempat ini, setiap aktivitas seolah memiliki lapisan sejarah yang panjang.
Mereka yang datang untuk beribadah sekaligus berada di sebuah ruang yang telah menjadi saksi perjalanan Islam di Surabaya selama berabad-abad.
Kampung Arab dan Lorong yang Selalu Ramai Begitu meninggalkan kompleks masjid, suasana kembali berubah.
Lorong-lorong kawasan Ampel dipenuhi aktivitas perdagangan.
Kawasan ini dikenal sebagai Kampung Arab, salah satu kawasan yang memiliki karakter budaya Arab yang kuat di Surabaya.
Toko-toko berdiri rapat. Pakaian muslim dipajang di depan toko. Buku dan kitab agama tersusun di rak-rak. Parfum, makanan, rempah dan berbagai kebutuhan lainnya mudah ditemukan.
Di antara para peziarah, pedagang sibuk melayani pembeli.
Tidak ada batas tegas antara kawasan wisata religi dan kehidupan ekonomi masyarakat. Keduanya tumbuh berdampingan.
Pasar Ampel menjadi salah satu daya tarik yang membuat perjalanan ke kawasan ini semakin lengkap.
Setelah berziarah, pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong pasar, berburu oleh-oleh, mencicipi makanan, atau sekadar menikmati suasana Kampung Arab.
Lebih dari Sekadar Wisata Religi Kawasan Ampel memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan hanya dengan satu kata.
Menyebutnya sebagai tempat ziarah memang benar, tetapi belum cukup.
Ampel juga merupakan kawasan sejarah. Ia adalah ruang budaya. Ia menjadi pusat perdagangan. Dan bagi masyarakat Surabaya, Ampel merupakan bagian dari identitas kota.
Di tempat ini, sejarah tidak disimpan dalam ruang tertutup. Sejarah berjalan bersama manusia.
Ia hadir dalam doa para peziarah, dalam bangunan masjid, dalam makam, dalam percakapan pedagang, dalam aroma makanan, serta dalam lorong-lorong Kampung Arab yang terus dipenuhi aktivitas.
Itulah sebabnya Ampel selalu memiliki alasan untuk dikunjungi kembali.
Sejarah yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Kota Surabaya terus berubah. Gedung-gedung baru bermunculan. Jalan semakin padat. Teknologi dan gaya hidup masyarakat berkembang mengikuti zaman.
Tetapi di tengah perubahan itu, kawasan Ampel tetap mempertahankan identitasnya.
Makam Sunan Ampel masih diziarahi.
Masjid Ampel masih menjadi tempat ibadah. Pasar Ampel masih ramai.
Kampung Arab masih hidup dengan karakter budayanya.
Semuanya menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun dari gedung dan jalan, tetapi juga dari ingatan yang diwariskan lintas generasi.
Mengunjungi Ampel pada akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju makam seorang wali.
Ini adalah perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah sejarah tetap hidup di tengah kota yang terus bergerak.
Dan ketika meninggalkan kawasan Ampel, mungkin yang tertinggal bukan hanya oleh-oleh dari pasar atau foto di depan masjid. Tetapi juga sebuah kesadaran sederhana:
bahwa di tengah modernitas Surabaya, ada sebuah kawasan yang masih menjaga cerita masa lalu agar tidak benar-benar hilang.
Ampel adalah salah satunya. ( doe)




