Koranindopos.com, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan China perlu memasuki babak baru yang tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga diarahkan untuk mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Hal tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara dalam Track 1.5 Indonesia–China Dialogue on Cooperation in a Changing Global Order yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).
Forum tersebut turut menghadirkan Founder FPCI Dino Patti Djalal dan Utusan Khusus Pemerintah China Bidang Perubahan Iklim Liu Zhenmin.
Menurut Eddy, perubahan tatanan global akibat ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan transformasi ekonomi dunia menuntut Indonesia membangun kemitraan internasional yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas industri nasional.
“Indonesia membutuhkan mitra strategis yang mampu mempercepat transformasi ekonomi rendah karbon. Dalam konteks tersebut, kerja sama dengan China harus diarahkan untuk menghasilkan investasi berkualitas, transfer teknologi, pengembangan industri dalam negeri, serta penciptaan lapangan kerja hijau,” ujar Eddy.
Eddy menjelaskan bahwa krisis iklim bukan lagi sekedar menjadi isu lingkungan melainkan telah menjadi tantangan pembangunan nasional.
“Berbagai dampak perubahan iklim mulai dirasakan melalui banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga terganggunya produktivitas sektor pertanian,”
“Situasi ini membutuhkan langkah mitigasi yang jauh lebih progresif melalui transisi energi dan penguatan sektor kehutanan,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Eddy juga menyoroti pengalaman China yang berhasil membangun kepemimpinan global di sektor energi baru dan terbarukan.
Saat ini China menguasai sekitar 90 persen produksi panel surya dunia, 70 persen sistem penyimpanan energi berbasis baterai (_battery energy storage system_), serta 65 persen manufaktur turbin angin, sekaligus menjadi produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.
Di sisi lain, China tetap mempertahankan penggunaan energi fosil sebagai bagian dari strategi menjaga keandalan sistem energi selama proses transisi berlangsung.
“Pengalaman China menunjukkan bahwa transisi energi harus dijalankan secara realistis. Indonesia perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan tanpa mengorbankan ketahanan energi, keterjangkauan harga, maupun keandalan pasokan listrik,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Eddy menekankan pentingnya perencanaan hingga implementasi Program Pembangunan 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto sebagai fondasi menuju kemandirian energi nasional.
Program tersebut diproyeksikan membutuhkan investasi sekitar USD100 miliar, terdiri atas sekitar USD70 miliar dari sektor swasta dan USD30 miliar dari pemerintah, sekaligus menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia melalui integrasi PLTS dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS).
“Keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepastian regulasi, percepatan proses pengadaan proyek, kepastian tarif, serta skema pembiayaan yang kompetitif agar mampu menarik investasi berskala besar,” tegasnya.
Ia juga menilai kerja sama Indonesia-China telah berkembang secara konkret melalui berbagai proyek strategis, mulai dari pengembangan industri baterai kendaraan listrik, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, penguatan jaringan transmisi, hingga pengolahan sampah menjadi energi.
Menutup paparannya, Eddy menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi hijau dunia. Sebaliknya, Indonesia harus menjadi pusat pertumbuhan industri energi bersih di kawasan dengan memanfaatkan sumber daya alam, potensi energi terbarukan, serta kemitraan strategis bersama negara-negara sahabat.
“Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan baru energi bersih di Asia. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, kepastian investasi, dan kemitraan strategis yang saling menguntungkan, termasuk dengan China, kita dapat membangun ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Eddy.(hai)










