koranindopos.com, BANDUNG BARAT – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan komitmen Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk mempercepat transformasi balai-balai pelatihan menjadi pusat pengembangan talenta dan inovasi ketenagakerjaan yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja.
Transformasi ini dianggap krusial mengingat Indonesia diproyeksikan memasuki puncak bonus demografi pada 2030–2040. Oleh karena itu, diperlukan sumber daya manusia yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global.
“Digitalisasi dan disrupsi teknologi mengubah struktur pekerjaan dengan sangat cepat. Karena itu, kita harus memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang relevan, inovatif, dan siap menghadapi perubahan,” ujar Yassierli saat melakukan Kick Off Talent and Innovation Hub (TIH) 2025 dan peluncuran buku dalam rangkaian Talent and Innovation Day 2025 di Balai Besar Perluasan Kesempatan Kerja (BBPKK) Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025).
Menjawab tantangan tersebut, Yassierli menegaskan transformasi balai-balai Kemnaker adalah langkah strategis yang harus segera diwujudkan agar balai mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas tenaga kerja.

Ke depan, balai tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan, tetapi juga dikembangkan menjadi pusat pelatihan vokasi dan peningkatan produktivitas, pusat perluasan kesempatan kerja dan kewirausahaan, pusat layanan pasar kerja dan penempatan, serta pusat pelatihan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sejalan dengan arah transformasi tersebut, kehadiran Talent and Innovation Hub diposisikan sebagai simpul penting yang mempertemukan talenta dengan dunia industri, pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas.
“Melalui TIH, kolaborasi lintas pemangku kepentingan diharapkan mendorong inkubasi bisnis, pengembangan inovasi, serta penciptaan peluang kerja berbasis kebutuhan pasar,” ujarnya.
Yassierli menuturkan, rangkaian Talent and Innovation Day menjadi contoh konkret implementasi transformasi balai, mulai dari business matching Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Lanjutan, peluncuran TIH, hingga penguatan layanan ketenagakerjaan yang inklusif.
“Link and match tidak cukup hanya menjadi konsep. Ia harus hadir secara nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Dalam upaya memperluas dampak tersebut, Kemnaker juga membuka akses kerja lebih luas bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari pembangunan ketenagakerjaan yang inklusif. Menurut Yassierli, tantangan utama bukan hanya pada regulasi, tetapi juga kesiapan dan penerimaan dunia usaha.
“Kami ingin industri menerima teman-teman disabilitas dengan bahagia, karena mereka juga mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kemnaker, Estiarty Haryani, menambahkan pentingnya penguatan kompetensi tenaga kerja usia produktif agar mampu menghadapi digitalisasi sekaligus memanfaatkan momentum bonus demografi.
“Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang siap menghadapi digitalisasi sekaligus mampu memanfaatkan bonus demografi. Ini merupakan potensi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Estiarty.
Kegiatan ini melibatkan 42 peserta TKM Lanjutan 2025 dalam program pendampingan dan business matching bersama mitra industri, serta menghasilkan 95 kemitraan strategis dengan 24 mitra dari ILO, serta berbagai perusahaan untuk memperkuat kesinambungan program ketenagakerjaan di daerah. (rls)










