Koranindopos.com, Jakarta – Industri perfilman horor Indonesia kembali mengeksplorasi kekayaan mitos lokal yang jarang tersentuh. Kali ini, Multi Buana Kreasindo mempersembahkan The Bell: Panggilan untuk Mati, sebuah film yang mengangkat legenda hantu Penebok dari tanah Belitung. Langkah ini diambil untuk memberikan warna baru dalam genre horor nasional yang selama ini didominasi oleh sosok-sosok hantu yang sudah lazim.
Penebok digambarkan sebagai sosok mengerikan tanpa kepala yang mengenakan gaun merah dan memiliki kebiasaan mengumpulkan kepala manusia. Penokohan ini diperankan oleh Shaloom Razade dengan riset yang mendalam. Shaloom bahkan memberikan sentuhan bahasa Belanda untuk memperkuat kesan sejarah pada karakternya sebagai aktivis di masa penjajahan yang berubah menjadi entitas mistis.
”Jadi sebenernya nggak ada di skrip bahasa Belanda nya, itu ide saya sendiri. Kadang lihat Isabella ini gimana cara sampaikan pesan ke orang Belanda, dan buat kasih tau Isabella ini serius. Makanya saya usul pak pakai bahasa Belanda aja ya,” ucap Shaloom Razade saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).
Ambisi produser dan sutradara Jay Sukmo tidak hanya berhenti di pasar domestik. Keaslian budaya dan kualitas visual yang ditawarkan dalam film ini direncanakan akan dipasarkan di Cannes Film Market. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan Penebok sebagai ikon horor baru yang memiliki akar budaya kuat namun tetap relevan bagi penonton generasi masa kini secara global.
Aktor senior Septian Dwi Cahyo menyambut antusias kehadiran sosok Penebok dalam kancah perfilman Indonesia. Ia berperan sebagai Dokter Usman yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga para pemuda dari ancaman maut sang hantu tanpa kepala. Septian merasa bangga bisa terlibat dalam proyek yang mengedepankan identitas lokal Belitung.
”Ternyata di Indonesia ada penebok, ini keren banget buat saya apalagi saya jadi dokter di sini dan harus menjaga anak anak muda dari penebok,” tutur Septian Dwi Cahyo membagikan pengalamannya.
Kisah dalam The Bell dipicu oleh tindakan ceroboh sekelompok Youtuber yang mencuri lonceng keramat demi konten. Hal ini memicu rentetan kejadian berdarah di sebuah desa di Belitung. Bhisma Mulia, yang memerankan tokoh Danto, mengungkapkan bahwa proses pendalaman karakternya dilakukan dengan sangat hati-hati bersama sutradara demi menjaga kualitas cerita.
Selain aspek horor, film ini juga menyelipkan drama emosional antar karakter. Salah satunya adalah konflik antara Saidah (Givina) dan Airin (Ratu Sofya). Ratu Sofya sendiri merasa karakter yang dimainkannya memiliki kemiripan dengan sifat aslinya yang keras di luar namun memiliki alasan mendalam di balik sikapnya tersebut.
”Melihat karakter Airin agak ada persamaan dengan saya. Karena ratu Sofia sok keras, tapi aslinya gak. Cuma karena tekanan, pengalaman hidup, ya ada kesamaan juga. Airin kan lumayan berisik nggak bisa diem,” tutur Ratu Sofya memaparkan karakternya.
Sutradara Jay Sukmo menekankan bahwa atmosfer horor dalam film ini dibangun dari kepercayaan masyarakat setempat. Ia ingin penonton tidak hanya mendapatkan kejutan instan, tetapi juga merasakan perjalanan emosional yang dialami oleh para penyintas dalam film tersebut. Keseimbangan antara teror dan narasi inilah yang menjadi kekuatan utama The Bell. (BRG/Hend)










