Sabtu, 8 Agustus 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Project Based Learning Belum dan Bukan Pembelajaran Mendalam

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
2 Agustus 2026
in Opini
A A
0
Perlukah TKA untuk Pembelajaran Mendalam?

Prof. Suyanto, Ph.D. (Ketua Dewan Pendidikan Nasional, dan Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta)

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Ada gejala yang perlu segera diluruskan dalam implementasi Pembelajaran Mendalam (PM). Sebagian sekolah dan guru merasa telah menerapkan PM hanya karena menggunakan Project Based Learning. Di SMK, kesimpulan itu bahkan lebih mudah muncul: siswa membuat benda, mengerjakan pesanan, menjalankan praktik bengkel, atau menghasilkan produk, inilah PM kata beberapa dari mereka. Karena pembelajaran tampak aktif dan menghasilkan karya, kegiatan tersebut langsung diberi label pembelajaran mendalam.

Kesimpulan itu keliru. Project Based Learning – lebih tepat disingkat PjBL agar tidak tertukar dengan Problem Based Learning – hanyalah salah satu pilihan praktik pedagogis. Ia merupakan kendaraan, bukan tujuan; cara menempuh perjalanan, bukan keseluruhan perjalanan. Kerangka resmi PM Kemendikdasmen juga menempatkan praktik pedagogis sebagai satu bagian dari kerangka pembelajaran, berdampingan dengan lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital.

Karena itu, proyek tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi mendalam. Sebuah proyek dapat tetap dangkal apabila siswa sekadar mengikuti instruksi guru, meniru contoh, membagi pekerjaan secara mekanis, mengejar penyelesaian produk, kemudian berhenti ketika barang selesai. Siswa mungkin tampak sibuk, tetapi tidak sungguh-sungguh memahami konsep, tidak mampu menjelaskan alasan di balik prosedur, dan tidak memperoleh kesempatan menilai proses belajarnya sendiri. Tangan bekerja, tetapi pikiran belum tentu bertumbuh.

Miskonsepsi ini juga dapat melahirkan kepatuhan administratif semu. Sekolah memotret pameran produk, mencatat penggunaan PjBL dalam modul ajar, lalu melaporkannya sebagai bukti PM. Padahal, dokumentasi kegiatan belum membuktikan kedalaman pengalaman belajar. Jika gejala ini dibiarkan, kebijakan yang sesungguhnya hendak mentransformasi proses belajar justru menyusut menjadi pergantian istilah. Guru mengejar label, sekolah mengejar bukti fisik, sedangkan perubahan pada cara siswa memahami, bernalar, dan merefleksi tidak diperiksa.

Artikel Terkait

Membebaskan sektor Riil dari Tekanan Merawat Independensi Bank Central

Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital

Mutu Dimulai dari Risiko

Risiko tersebut sangat besar bagi SMK. Karakter pendidikan kejuruan memang menuntut banyak praktik, kedekatan dengan dunia kerja, teaching factory, serta pembelajaran berbasis proyek atau pesanan. Namun, praktik kerja bukan ukuran tunggal kedalaman belajar. Seorang siswa dapat menghasilkan meja yang rapi tanpa memahami karakter bahan, menghitung kekuatan konstruksi, mempertimbangkan efisiensi biaya, keselamatan kerja, kebutuhan pengguna, dan dampak lingkungan. Produk boleh jadi baik, sedangkan proses belajarnya masih prosedural.

Kapan PjBL dapat menjadi wahana PM? Pertama, proyek harus dijalankan dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Berkesadaran berarti siswa mengetahui tujuan belajar, memahami strategi yang dipilih, serta mampu memantau kemajuannya. Bermakna berarti proyek berhubungan dengan persoalan nyata, pengetahuan sebelumnya, kebutuhan kehidupan, atau konteks dunia kerja. Menggembirakan bukan berarti kelas harus penuh kelucuan, melainkan siswa merasa aman, dihargai, tertantang, dan memiliki energi untuk belajar.

Kedua, di dalam proyek harus terjadi pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Sebelum praktik, siswa perlu membangun pemahaman konseptual. Ketika mengerjakan proyek, mereka menggunakan pemahaman itu untuk mengambil keputusan dalam konteks nyata. Sesudahnya, mereka merefleksikan keberhasilan, kegagalan, kualitas produk, cara bekerja, umpan balik pengguna, dan langkah perbaikan. Tanpa refleksi, proyek mudah berubah menjadi pekerjaan rutin yang berulang, bukan pengalaman yang meningkatkan kemampuan belajar.

Ketiga, guru perlu mengaktifkan seluruh kerangka PM. Proyek membutuhkan lingkungan yang aman untuk mencoba dan gagal, kemitraan dengan industri atau masyarakat yang tidak sekadar seremonial, serta teknologi digital yang dipakai secara relevan untuk merancang, mencari data, berkolaborasi, mensimulasikan, mendokumentasikan, atau mengevaluasi pekerjaan. Pilihan PjBL harus terhubung dengan tujuan belajar dan asesmen, bukan dipilih karena sedang populer.

Keempat, proyek diarahkan pada dimensi profil lulusan yang relevan. Tidak semua delapan dimensi harus dipaksakan masuk ke setiap kegiatan. Proyek perawatan sepeda motor, misalnya, dapat dipusatkan pada penalaran kritis, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, kreativitas, dan kesehatan melalui budaya keselamatan kerja. Guru harus menentukan dimensi yang dituju sejak perencanaan, kemudian menyiapkan bukti ketercapaiannya.

Dengan demikian, pertanyaan evaluatifnya bukan, “Apakah siswa sudah membuat proyek?” Pertanyaan yang benar ialah: “Apa yang dipahami siswa, bagaimana pemahaman itu diaplikasikan, apa yang direfleksikan, prinsip PM mana yang benar-benar dialami, dan dimensi lulusan apa yang bertumbuh?”

Meluruskan konsep ini bukan untuk merendahkan PjBL. Justru PjBL sangat potensial bagi SMK karena dapat mempertemukan teori, keterampilan, karakter kerja, kreativitas, dan persoalan autentik. Namun, potensial tidak sama dengan otomatis. Proyek baru menjadi pembelajaran mendalam ketika dirancang sebagai proses transformasi cara berpikir, bertindak, bekerja sama, dan memperbaiki diri.

Jangan sampai sekolah hanya mengganti label tanpa mengubah kualitas belajar. Kedalaman belajar tidak diukur dari keramaian aktivitas, mahalnya alat, atau bagusnya produk, tetapi dari mutu perubahan yang terjadi dalam diri siswa setelah proses itu selesai. PM bukan nama baru untuk praktik lama. Project Based Learning belum dan bukan PM apabila hanya menghasilkan produk. Ia menjadi bagian dari PM ketika menghasilkan pemahaman, aplikasi yang bernalar, refleksi, dan pertumbuhan manusia secara utuh.

PENULIS: Prof. Suyanto, Ph.D (Ketua Dewan Pendidikan Nasional, dan Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta)

Topik: Ketua Dewan Pendidikan NasionalKetua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri YogyakartaProf. Suyanto

TerkaitBerita

Bamsoet
Opini

Membebaskan sektor Riil dari Tekanan Merawat Independensi Bank Central

oleh Editor : Hairul
3 Agustus 2026
Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital
Opini

Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital

oleh Editor : Anggoro
28 Juli 2026
Mutu Dimulai dari Risiko
Opini

Mutu Dimulai dari Risiko

oleh Editor : Anggoro
28 Juli 2026
Bamsoet
Opini

Presiden Sudah Merinci Masalah, Perlu Mitigasi Untuk Cegah Eskalasi

oleh Editor : Hairul
27 Juli 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Jakarta

Direkomendasikan

IPO

Purbaya Unggul dalam Survei Kinerja Menteri, MBG Perlu Dilanjutkan

8 Agustus 2026
KERJA SAMA: Rektor Universitas Esa Unggul Arief Kusuma Among Praja (kanan) secara resmi telah meneken kerja sama dengan Fakultas Kedokteran UI. (FOTO: SHANTY AULIA/KORANINDOPOS.COM)

Dua Universitas Jalin Kerja Sama Untuk Standardisasi Fakultas Kedokteran

8 Agustus 2026
Dari Model ke Akting, Monica Steffi Main di Sahabat Jadi Apa?

Dari Model ke Akting, Monica Steffi Main di Sahabat Jadi Apa?

8 Agustus 2026
Berat Badan Bisa Kembali Naik Setelah Operasi Bariatrik, Ini Penjelasannya

Berat Badan Bisa Kembali Naik Setelah Operasi Bariatrik, Ini Penjelasannya

8 Agustus 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4253 shares
    Share 1701 Tweet 1063
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
  • Manchester United Siapkan Skuad Baru Jelang Musim Depan

    321 shares
    Share 128 Tweet 80
  • Project Based Learning Belum dan Bukan Pembelajaran Mendalam

    315 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Arsenal Tak Sabar Boyong Bruno Guimaraes Dari Newcastle

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya