Koranindopos.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi nasional dengan memaksimalkan potensi sumber daya energi primer domestik dari hulu hingga hilir.
Langkah strategis ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, memperkuat ketahanan nasional, serta mendorong tercapainya sistem energi yang berkelanjutan dan inklusif.
Potensi Besar Energi Domestik
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai swasembada energi berkat kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
“Indonesia memiliki potensi energi yang besar, baik fosil maupun terbarukan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana seluruh potensi itu dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Eniya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki cadangan minyak bumi per Mei 2025 sebesar 4.31 miliar barel, gas bumi sekitar 51,98 triliun kaki kubik, serta sumber energi terbarukan yang potensinya mencapai 3.700 GW, mencakup tenaga surya, air, panas bumi, bayu (angin), dan bioenergi.
Optimalisasi dari Hulu: Eksplorasi, Produksi, dan Teknologi Bersih
Pada sektor hulu, pemerintah berfokus pada peningkatan eksplorasi dan produksi energi primer, termasuk minyak, gas bumi, batubara, panas bumi, serta energi baru terbarukan (EBT).
Langkah ini ditempuh melalui:
Peningkatan investasi di blok-blok eksplorasi migas dan panas bumi.
Pemanfaatan teknologi eksplorasi modern untuk efisiensi biaya dan peningkatan recovery rate.
Penerapan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) di industri migas dan batubara.
“Optimalisasi sektor hulu tidak hanya soal produksi, tetapi juga tentang bagaimana produksi itu ramah lingkungan dan mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060,” tambah Eniya.
Pemerintah juga mendorong kerja sama dengan BUMN energi seperti Pertamina, PLN, dan Bukit Asam, serta swasta nasional untuk mempercepat proyek energi bersih dan memastikan keberlanjutan pasokan energi dalam negeri.
Hilirisasi dan Pemerataan Energi
Di sisi hilir, pemerintah memperkuat infrastruktur pengolahan dan distribusi energi agar lebih efisien dan merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Program strategis yang tengah dijalankan antara lain:
Peningkatan kapasitas kilang domestik melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Cilacap, dan Balongan.
Pembangunan jaringan gas bumi nasional (Jargas) untuk rumah tangga dan industri di lebih dari 60 kota/kabupaten.
Perluasan akses listrik hingga ke wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) melalui program Indonesia Terang dan PLTS Komunal.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Irjen Pol. Yudhiawan,.menyebutkan bahwa pemerataan energi menjadi fondasi penting bagi pemerataan ekonomi.
“Pemerataan akses energi akan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Swasembada energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal pemerataan manfaat,” kata Yudhiawan
Gaya Hidup Elektrifikasi: Dari Rumah Tangga ke Industri
Selain fokus pada infrastruktur dan produksi, pemerintah juga mendorong transformasi gaya hidup masyarakat menuju era elektrifikasi nasional.
Program ini mencakup:
Konversi kompor LPG ke kompor listrik induksi, yang saat ini sudah diuji coba di berbagai kota besar.
Peningkatan adopsi kendaraan listrik (EV) dengan insentif pajak dan perluasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Pemanfaatan energi surya atap (solar rooftop) di rumah tangga dan perkantoran.
“Elektrifikasi bukan sekadar tren, tetapi langkah nyata menuju efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Ini adalah bagian penting dari perjalanan menuju kemandirian energi nasional,” jelas Eniya
Menuju Kemandirian Energi Nasional
Pemerintah optimistis bahwa melalui sinergi dari hulu ke hilir, dukungan teknologi bersih, dan partisipasi aktif masyarakat, Indonesia mampu mencapai swasembada energi secara bertahap.
Target jangka menengah pemerintah adalah mengurangi impor BBM hingga 30% pada 2030, meningkatkan bauran energi terbarukan hingga 44% pada 2040, dan mencapai NZE sebelum 2060.
“Kemandirian energi akan menjadi pondasi kuat bagi ketahanan nasional dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Eniya.
Dengan arah kebijakan yang terukur, Indonesia kini berada pada jalur transformasi menuju sistem energi yang tangguh, efisien, dan mandiri — dari hulu hingga hilir. (doe)











