Koranindopos.com, Jakarta – PT Avrist Assurance melihat peluang pertumbuhan bisnis asuransi kesehatan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial yang terus meningkat. Hingga Juni 2026, rasio klaim kesehatan kumpulan perusahaan berada di sekitar 74 persen.
Pjs Presiden Direktur sekaligus Direktur Keuangan Avrist Assurance Agus Setiawan mengatakan, perbaikan rasio klaim menjadi salah satu perkembangan positif bagi perusahaan. Di sisi lain, premi dari bisnis kesehatan juga tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya.
“Itu kita lihat bahwa tren klaim-nya itu membaik,” ujar Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut Agus, asuransi kesehatan masih menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Karena itu, Avrist berharap bisnis tersebut dapat terus memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan premi perusahaan.
“Jadi kita berharap memang ini salah satu kontributor premi kita yang terbesar karena kita lihat memang asuransi kesehatan itu senantiasa salah satu yang dibutuhkan masyarakat untuk proteksi untuk segala macam hal seperti financial planning dan sebagainya,” katanya.
Direktur Bisnis & IT Avrist Assurance Aldi Rinaldi menambahkan, pertumbuhan bisnis kesehatan juga terjadi di tingkat industri. Namun, segmen kumpulan atau grup masih menjadi penyumbang premi yang lebih besar dibandingkan segmen individu.
“Di Avrist sendiri kita bertumbuh (premi) dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan kita cukup bagus dari sisi asuransi kesehatan. Namun harus juga melihat dari sisi klaim,” ujar Aldi.
Ia menyebut rasio klaim Avrist secara keseluruhan berada di kisaran 75-80 persen. Khusus untuk bisnis medis, angkanya sekitar 74 persen.
“Kalau bicara grup itu ada medical, jiwa, segala macam, tapi secara medical kita di angka 74%. Jadi artinya bagus secara bisnis untuk asuransi kesehatan kumpulan,” katanya.
Aldi menilai perbaikan pengelolaan bisnis kesehatan tidak bisa dilakukan oleh perusahaan asuransi saja. Kerja sama dengan rumah sakit, regulator, BPJS, dan Kementerian Kesehatan diperlukan untuk menjaga biaya kesehatan sekaligus meningkatkan efisiensi industri.
“Kita bersyukur para regulator juga bekerja sama keras menegosiasi, mengatur kembali tata kelola dengan rumah sakit dan sebagainya,” kata Agus.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Avrist memperkuat bisnisnya secara lebih luas. Pada saat yang sama, Avrist Group juga mulai menyatukan empat lini usaha melalui program One Avrist Synergy yang dikukuhkan pada Kamis (3/9/2026).
Program ini mempertemukan Avrist Assurance, Avrist General Insurance, Avrist Asset Management, dan DPLK Avrist dalam satu ekosistem layanan keuangan.
Melalui sinergi tersebut, nasabah dapat memperoleh berbagai kebutuhan dalam satu grup, mulai dari asuransi jiwa dan kesehatan, asuransi umum, pengelolaan investasi hingga persiapan dana pensiun.
Agus mengatakan, kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuat layanan Avrist lebih terhubung dan memudahkan nasabah dalam memenuhi kebutuhan finansialnya.
“Melalui sinergi ini, kami menghadirkan pengalaman nasabah yang lebih seamless dan personal di setiap touchpoint, didukung oleh integrasi layanan dan basis data yang terpadu sehingga kebutuhan nasabah dapat dipahami secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
One Avrist Synergy merupakan kelanjutan dari pembahasan yang dibangun dalam Avrist Group Financial Forum pada Februari 2026. Saat itu, seluruh entitas Avrist Group mendorong kerja sama yang lebih erat untuk menghadapi kebutuhan keuangan masyarakat yang semakin beragam.
Selain memperluas layanan, integrasi tersebut juga ditujukan untuk mendorong penjualan produk secara bersama, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat hubungan dengan nasabah.
Dari sisi kinerja, Avrist Assurance mencatatkan total aset Rp5,94 triliun per Juni 2026. Ekuitas perusahaan mencapai Rp2,078 triliun dengan laba bersih Rp122,7 miliar. Sementara rasio solvabilitas atau RBC berada di level 708,2 persen.
Kinerja tersebut didukung tiga entitas lain dalam grup. Avrist General Insurance mencatat gross written premium Rp239 miliar dan laba bersih Rp6 miliar dengan RBC 210 persen.
Di sektor investasi, Avrist Asset Management mengelola dana sebesar Rp3,56 triliun per Juni 2026. Dana tersebut berasal dari 57.473 investor ritel dan 135 investor institusional.
Sementara itu, DPLK Avrist memiliki dana kelolaan Rp1,3 triliun. Jumlah tersebut meningkat 5,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Aldi mengatakan penyatuan kekuatan dari empat entitas tersebut diharapkan membuat Avrist lebih mudah merespons kebutuhan nasabah.
“One Avrist Synergy bukan sekedar menyatukan perusahaan, tetapi menyatukan kekuatan, kompetensi, dan inovasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik,” kata Aldi.
Dengan sinergi tersebut, Avrist Group kini mengarahkan bisnisnya tidak hanya pada perlindungan risiko, tetapi juga pada kebutuhan finansial yang lebih luas, mulai dari kesehatan, investasi hingga persiapan masa pensiun. (RIS/Kul)










