
JAKARTA, koranindopos.com – Bursa calon gubernur DKI untuk penyelenggaraan pilkada serentak tahun 2024 mendatang semakin ramai. Masing-masing partai politik mulai menyuarakan nama kader mereka untuk tampil memimpin Ibu Kota. Salah satunya PDIP. Partai yang identik dengan warna merah itu bahkan menyebut dua kader mereka sebagai bakal calon gubernur DKI, yaitu Tri Rismaharini dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.
Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menilai Risma yang saat ini menjadi menteri sosial memiliki modal cukup memimpin Jakarta. Paling menonjol tentu saja pengalamannya selama menjadi wali kota Surabaya yang sarat dengan prestasi. Hasto bahkan memuji sistem kaderisasi di internal partainya yang tidak pernah kekurangan dalam melahirkan stok pemimpin masa depan. Bahkan, ratusan daerah di tanah air saat ini dipimpin oleh kader partai pemenang Pemilu 2019 itu, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.
Kepercayaan diri Hasto ternyata mendapat tanggapan berbeda dari sejumlah pihak. Salah satunya dari pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga. Menurutnya, penilaian Hasto masih dapat diperdebatkan. Sebab, Risma selama menjadi walikota Surabaya hanya menonjol dalam pembangunan pertamanan. Itu pun hanya di jalan-jalan utama. Pembangunan infrastruktur tampaknya tidak terlalu menonjol. “Kesejahteraan masyarakat juga tidak meningkat signifikan,” cetus Jamiluddin, Rabu (11/1).
Tak hanya saat menjadi walikota, lanjut Jamiluddin, selama menjadi menteri sosial Risma juga belum menunjukkan prestasi yang membuat dia pantas memimpin warga Jakarta. Justru yang banyak diketahui masyarakat hanya kebiasaan marah-marahnya daripada kinerja sebagai seorang menteri. “Jadi yang diketahui masyarakat hanya kontroversial Risma saja,” ujar akademisi yang pernah menjadi Dekan Fikom IISIP Jakarta 1996-1999 itu.
Jamiluddin juga melontarkan penilaian serupa rentang Gibran. Putra Presiden Joko Widodo tersebut hingga kini dinilai belum menunjukkan kinerja yang dapat dibanggakan. Gibran selama menjadi walikota Solo terkesan hanya menjalankan hal-hak rutin. Belum ada gebrakan yang monumental bagi warga Solo. Keduanya terkesan tak punya visi mumpuni untuk membangun Jakarta. Padahal Jakarta dihuni warga yang sangat kritis dan mengharapkan pemimpin yang cerdas. “Risma maupun Gibran tampaknya belum layak untuk memimpin Jakarta. Kapasitas keduanya masih level daerah,” tandas Jamiluddin.(hai)








