Koranindopos.com, Jakarta – Minggu pagi di kawasan Car Free Day Sudirman, 30 November 2025, berubah menjadi panggung kejadian tak terduga. Saat warga larut dalam rutinitas lari pagi dan bersepeda, sorotan mendadak tertuju pada sebuah kendaraan mirip Jeep Rubicon yang seolah menerobos kerumunan. Suasana riang sontak berubah riuh; teriakan agar kendaraan itu berhenti terdengar dari berbagai penjuru, menyusul klakson bernada nyaring yang membuat sejumlah orang panik.
Kehadiran mobil itu memunculkan kembali memori publik tentang peristiwa penyalahgunaan kendaraan mewah yang pernah mencuri perhatian nasional. Banyak warga tampak murka, bingung bagaimana sebuah mobil bisa masuk ke zona bebas kendaraan. Namun, di tengah kecamuk emosi itu, hal janggal mulai terlihat ketika mobil tersebut semakin mendekat.
Beberapa pengunjung yang berada di garis depan kemudian menyadari bahwa ban kendaraan itu tidak benar-benar menyentuh aspal. Dari bawahnya tampak belasan orang yang memanggul struktur menyerupai mobil, membuat Rubicon tersebut tampak melayang. Dalam sekejap, teror berubah menjadi keterkejutan, bahkan tawa lega, setelah publik menyadari bahwa yang mereka saksikan bukan ancaman sungguhan.
Bentuk menyerupai mobil mewah itu ternyata merupakan properti ringan yang dibawa para relawan sambil meneriakkan “STOP BULLYING!” berulang kali. Aksi ini sontak menjadi pusat perhatian, mengundang warga untuk mendekat dan melihat lebih jelas pesan yang dibawa. Saat orang-orang mengitari struktur tersebut, tulisan besar di sisi tubuh mobil terbaca: “OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.”

Aksi dramatis bernama “Bullycon” ini merupakan rangkaian kampanye menjelang penayangan film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel yang digarap Umbara Brothers Film. Sang sutradara, Anggy Umbara, 44 tahun, memilih membawa simbol kontroversial itu ke ruang publik sebagai pengingat bahwa kasus penyalahgunaan kekuasaan tidak boleh sekadar menjadi viral lalu dilupakan begitu saja.
“Kalau dulu mobil ini bisa bebas bergerak tanpa konsekuensi, sekarang biar publik yang melihatnya langsung. Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja,” ujar Anggy Umbara menjelaskan alasan ia menghadirkan kembali simbol tersebut di tengah keramaian CFD.
Ia menegaskan bahwa langkah ini menjadi bentuk konsistensi untuk terus bersuara terhadap ketidakadilan yang berulang.
Melalui Bullycon, pesan utama film Ozora ingin ditegaskan: bullying bukan hanya soal tindakan fisik atau ejekan verbal. Ia dapat tumbuh dari struktur yang timpang, dari pihak yang memiliki kuasa lebih besar, dari aparat yang berlaku semena-mena, hingga dari lingkungan keluarga yang membiarkan kekerasan dianggap wajar. Ketika kekuasaan terlibat di dalamnya, dampaknya jauh lebih luas dan meninggalkan trauma mendalam.
Bullycon mengajak publik merenungkan bahwa praktik perundungan dapat hadir dalam bentuk keputusan berat sebelah, proses hukum yang tak setara, maupun tindakan aparat yang mengesampingkan nilai keadilan. Pesan itu divisualkan melalui simbol Rubicon, kendaraan yang pernah melekat pada isu keberpihakan hukum dan ketidakadilan sosial.
Saat aktivasi berlangsung, warga yang penasaran berkerumun, berfoto, dan berdiskusi mengenai pesan yang ingin disampaikan. Banyak yang menganggap aksi ini sebagai pengingat bahwa kesewenang-wenangan tidak hanya terjadi di lingkungan pertemanan atau sekolah, tetapi juga bisa tumbuh dari struktur kekuasaan jika tidak diawasi publik.
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 4 Desember 2025. Melalui aksi berani ini, Umbara Brothers Film berharap masyarakat tidak melupakan deretan kasus yang pernah mengguncang publik, sekaligus tergerak memahami bahwa bullying adalah persoalan sistemik yang membutuhkan perhatian serius.(Brg/Hend)










