Koranindopos.com – Jakarta. Speedboat yang mengangkut delapan orang tenggelam di antara perairan Pulau Momoi dan Tanjung Piayu serta Pulau Kubung Kabil Kepulauan Riau pada Selasa (15/11/2022) pukul 01.00. Kapal yang mengangkut WNI itu diduga akan berangkat ke Malaysia secara unprosedural lalu terhempas gelombang sehingga tenggelam.
Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengungkapkan, speedboat tersebut diketahui berangkat dari Pelabuhan Dumai Riau pada Senin pagi (14/11/2022). Yakni dengan mengangkut sebanyak enam penumpang yang satu di antaranya adalah anak berusia empat tahun.
Keenam penumpang itu terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mereka adalah Zuraidah, 45, asal Samalanga, Aceh, Sulipah, 45, asal Grobogan, Jawa tengah, Khairunnisak, 21, asal Bireun, Aceh, Fadil, 36, asal Samalanga, Aceh, Mawardi, 48, asal Cakung, Jakarta Timur, dan Abdul Ahesan, 4, asal Grobogan, Jawa Tengah diduga anak dari Sulipah. Sisanya dua orang adalah nahkoda yang belum ditemukan dan tidak diketahui identitasnya. ”Sisanya adalah nahkoda speedboat (laki-laki) dan tekong (laki-laki),” ungkapnya di Kantor BP2MI Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (18/11/2022).
Saat dalam perjalanan, dikatakan Benny, speedboat tersebut dihantam gelombang hingga menyebabkan kapal terbalik. Kemudian, pada Selasa pagi salah satu penumpang ditemukan oleh kapal MV Klasogun yang tengah melintas. Penumpang tersebut ditemukan dalam keadaan hidup atas nama Zuraidah. ”Atas penemuan itu langsung diinformasikan kepada tim SAR gabungan hingga akhirnya dilakukan pencarian gabungan,” jelasnya.
Setelah dilakukan pencarian, lanjut Benny, hingga saat ini setidaknya sudah ditemukan sebanyak enam orang. Yakni dengan rincian tiga laki-laki dan tiga perempuan. Di mana, dari keenam orang tersebut yang ditemukan selamat hanya satu orang. Kemudian, dari yang ditemukan meninggal tersebut, dua di antaranya belum teridentifikasi, keduanya laki-laki. ”Yang belum ditemukan termasuk anak yang berusia empat tahun tersebut dan itu adalah anak dari salah satu penumpang yang ditemukan meninggal,” terangnya. Hingga saat ini, dikatakan Benny, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Dikatakan Benny, para penumpang speedboat tersebut diduga akan berangkat ke Malaysia secara unprosedural diketahui berdasar hasil tim di lapangan. Terlebih, praktik seperti itu memang bukan hal baru. Di wilayah Kepuluan Riau banyak terjadi praktik pengiriman WNI secara unprosedural. Hal tersebut menyusul banyaknya jalur-jalur tikus. ”Cara melawan sindikat penempatan ilegal jika dilakukan secara bersama-sama sebenarnya bisa menjadi pekerjaan mudah. Yang penting itu adalah kerja kolaboratif di lapangan, tapi lebih penting dari itu adalah komitmen,” ujarnya.
Hanya, yang sulit, masih dikatakan Benny, adalah ketika ada oknum-oknum dari masing-masing kementerian atau lembaga yang menjadi bagian dari sindikat itu sendiri. Bahkan, membekengi setiap praktik pedagang orang dan itu memang ada. Kejadian tersebut sudah banyak ditemukan. Termasuk dari oknum BP2MI
”Saya sering menyebutkan atau oknum dari kementerian atau lembaga yang memiliki atribut-atribut kekuasaan, tapi dia menjadi bagian kita. Termasuk dari institusi yang saya pimpin,” tuturnya. (wyu/mmr)










