Koranindopos.com, Jakarta – Ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta diselimuti suasana haru pada Selasa (30/6/2026). Majelis hakim resmi menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, atas kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook. Di tengah kepadatan, tampak aktris senior Happy Salma yang tak mampu menyembunyikan rasa duka yang mendalam atas kesimpulan tersebut.
Bagi Happy Salma, Nadiem bukan sekadar figur publik atau mantan pejabat, melainkan sahabat karib yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kehadirannya di Pengadilan sejak pagi hari merupakan bentuk loyalitas seorang kawan yang ingin memberikan dukungan moral di titik terendah kehidupan sahabat. Mendengar vonis berat tersebut, Happy mengaku hatinya sangat hancur nasib melihat Nadiem dan keluarganya.
“Iya, dan akan ditambah 5 tahun lagi kalau dia tidak bisa membayar denda. Tentu sedih dan kecewa ya. Nadiem dan Franka itu kan sudah seperti saudara bagi saya, dia sahabat saya. Anak-anaknya seperti anak-anak saya sendiri, begitu juga sebaliknya. Jadi sejak awal, ketika mereka mendapatkan cobaan ini, saya sebagai kawan hanya bisa mendoakan, mendukung, hadir, dan memberikan kekuatan secara spiritual,” ujar Happy Salma di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).
Sepanjang satu tahun proses hukum berjalan, secara konsisten menjaga perkembangan kasus ini. Ia melihat bagaimana Nadiem tetap berusaha tegar menghadapi berbagai tudingan yang dialamatkan kepadanya. Meskipun hasil akhir di tingkat pertama ini tidak sesuai harapan, Happy tetap memberikan penghargaan tinggi terhadap cara Nadiem menjaga kehormatannya selama persidangan.
“Saya bangga, namun juga, selama hampir satu tahun menghadapi berbagai tuduhan yang diberikan, Nadiem tetap memiliki martabat (harga diri) dan berusaha membela diri dengan sangat baik. Namun, dalam proses, hukuman hari ini ternyata membuat kami kecewa dan sedih,” ungkapnya.
Dukungan yang Lahir dari Ketulusan
Kehadiran Happy Salma bersama rekan-rekan artis lainnya di ruang sidang sempat mencuri perhatian publik. Namun, Happy menepis kabar bahwa kehadiran mereka adalah hasil penggalangan massa atau koordinasi tertentu. Menurutnya, tindakan tersebut murni merupakan dorongan hati nurani masing-masing individu yang merasa peduli terhadap nasib Nadiem.
“Untuk tergerak hati memberikan dukungan kepada seseorang, itu tidak ada yang menyuruh. Dukungan tersebut harus datang dari hati masing-masing, dari dalam diri kita sendiri. Memberikan dukungan, dukungan, maupun aksi nyata itu tidak bisa dipaksakan,” katanya.
Sebagai seorang wanita dan ibu, Happy tak kuasa menahan air mata saat melihat Franka Franklin, istri Nadiem, didera kesedihan. Perasaan empati yang mendalam membuat Happy ikut merasakan beban berat yang dipikul keluarga sahabatnya itu. Baginya, momen di pengadilan tersebut adalah pelajaran berharga tentang sulitnya mencari keadilan.
“Iya, tentu saja. Namanya juga manusia, ketika melihat ada yang menangis dan sedih, hati kita yang memiliki perasaan pasti akan tersentuh. Hal seperti itu kan tidak ada yang dibuat-buat. Ketika semua sedih dan sedih, tentu kita juga merasa terharu. Semacam itulah rasanya, apalagi kita mengenal baik orangnya,” tutur Happy.
Kasus yang menimpa Nadiem ini rupanya memberikan pandangan baru bagi Happy Salma mengenai dunia birokrasi di Indonesia. Meski ia tetap menghormati mereka yang berani terjun ke dunia pemerintahan, Happy merasa sebagai seniman adalah pilihan terbaiknya untuk tetap mencintai bangsa tanpa harus masuk ke ranah politik yang penuh risiko.
“Nadiem berkali-kali mengatakan, ‘Saya tidak menyesal menjadi menteri, saya tidak menyesal mencintai bangsa ini.’ Ya, semoga saja mencintainya tidak melingkari tangan. Kalau bagi saya pribadi, saya sangat salut kepada orang-orang yang berani berada di dalam kewenangan dan sejenisnya. Namun, sejujurnya, saya sendiri tidak berani. Meskipun tidak berani masuk ke ranah tersebut, bukan berarti saya akan berhenti melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa ini, yaitu lewat profesi saya sebagai seorang seniman,” pungkas Happy Salma. (BRG/Hen)









