Koranindopos.com, Jakarta – Aktris muda Shalom Razade kembali membuktikan eksistensinya di industri layar lebar tanah air. Kali ini, putri dari Wulan Guritno tersebut ikut ambil bagian dalam film horor-sejarah terbaru bertajuk The Bell: Panggilan Untuk Mati. Dalam film ini, Shalom mendapatkan peran yang cukup signifikan dan berbeda dari karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya.
Shalom Razade dipercaya memerankan sosok Isabella, seorang aktivis berkebangsaan Belanda yang hidup di masa lampau. Meski menjadi bagian dari bangsa penjajah, karakter Isabella digambarkan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat lokal. Kehadiran tokoh ini menjadi kunci dalam alur cerita, terutama dalam adegan-adegan yang menggambarkan latar belakang peristiwa di masa lalu.
”Isabella adalah aktivis pada zaman Belanda untuk membela hak-hak pribumi. Jadi aku itu bagian flashbacknya,” kata Shalom Razade ketika ditemui di XXI Metropole Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Memerankan sosok dari era kolonial tentu memberikan beban tersendiri bagi wanita berusia 27 tahun ini. Shalom mengaku tidak bisa sembarangan dalam berakting karena harus menyesuaikan diri dengan norma dan etika yang berlaku pada zaman tersebut. Ia pun melakukan berbagai persiapan matang agar karakter Isabella terlihat meyakinkan di depan kamera.
”Challenge utamanya itu gerak-gerik dan bahasa. Risetnya nonton film sejenis aktivis gitu,” ucap wanita berusia 27 tahun ini.

Selain riset melalui literasi visual, tantangan teknis yang paling dirasakan oleh Shalom adalah penguasaan dialek. Ia dituntut untuk fasih mengucapkan dialog dalam bahasa Belanda serta bahasa daerah Belitung. Menurutnya, cara berkomunikasi orang zaman dahulu memiliki kekhasan tersendiri yang sangat jauh berbeda dengan gaya bicara generasi masa kini yang cenderung lebih lugas.
”Jadi pelajarin gestur sih itu yang susah, ditambah lagi harus bisa bahasa Belanda dan Belitung. Cara orang dulu berbicara itu ada tata caranya, nggak se-open dan blak-blakan sekarang,” jelasnya.
Proses pengambilan gambar film ini dilakukan langsung di lokasi aslinya, yakni Pulau Belitung, Sumatera. Medan syuting yang menantang menuntut ketahanan fisik dan mental yang kuat. Meski harus melakoni beberapa adegan yang cukup berbahaya, Shalom menegaskan bahwa aspek psikologis karakternya jauh lebih menguras energi dibandingkan aksi fisiknya.
”Kalau fisik nggak terlalu, tapi aku lebih menguras emosi di film ini,” ungkapnya.
Di balik lelahnya proses produksi, Shalom mengaku sangat terkesan dengan keindahan alam Pulau Belitung. Pengalaman syuting ini sekaligus menjadi ajang eksplorasi bagi dirinya untuk mengenal kekayaan alam Indonesia lebih jauh. Baginya, suasana di lokasi syuting yang kondusif membuat beban kerja yang berat menjadi terasa lebih ringan dan menyenangkan.
”Indahnya tuh beneran masih raw saja. Banyak banget daerah-erah yang belum tersentuh. Wah, indah banget ya Belitung. Ternyata banyak tempat di Indonesia yang seindah dan sekaya itu,” ujar Shalom Razade.
Keindahan lokasi syuting di Belitung memberikan memori tersendiri bagi seluruh kru dan pemain. Shalom merasa beruntung bisa terlibat dalam proyek yang tidak hanya menawarkan cerita mencekam, tetapi juga visual yang memanjakan mata. Kehangatan interaksi antar pemain di lokasi juga membuatnya sangat antusias menantikan penayangan perdana film ini.
”Atmosfer dan vibesnya tuh seru sih selama syuting. Ini salah satu film yang aku tunggu,” sambungnya.
Film The Bell: Panggilan Untuk Mati direncanakan akan meneror penonton di bioskop mulai tanggal 7 Mei 2026 mendatang. Selain Shalom Razade, film ini juga diperkuat oleh jajaran aktor berbakat seperti Ratu Sofya, Givina, Bhisma Mulia, hingga aktor senior Mathias Muchus. Kombinasi akting memukau dan latar sejarah yang kuat diprediksi akan menjadi daya tarik utama bagi para pencinta film horor Indonesia. (BRG/Kul)










