Koranindopos.com, Jakarta – Film musikal anak Iyus Jenius membutuhkan waktu sekitar tiga tahun sebelum akhirnya mendapat kesempatan tayang di bioskop. Perjalanan panjang tersebut kemudian menjadi salah satu pembahasan dalam acara nonton bareng Festival Film Wartawan (FFW) 2026 di CGV FX, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Produser Iyus Jenius, Gandhi Fernando, mengatakan persoalan terbesar justru muncul setelah film selesai diproduksi. Menurut dia, tim harus menunggu cukup lama sebelum mendapatkan jadwal pemutaran di jaringan bioskop.
Setelah melalui penantian tersebut, Iyus Jenius memperoleh 25 layar di XXI dan total sekitar 80 layar jika dihitung dari seluruh bioskop di Indonesia.
“25 layar di XXI, dan totalnya sekitar 80 layar di seluruh bioskop Indonesia,” ungkap Gandhi.
Penantian panjang yang dialami Iyus Jenius kemudian mendapat perhatian dari Ketua FFW 2026 Benny Benke. Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan masih adanya persoalan dalam tata kelola peredaran film nasional.
“Ini membuktikan bahwa tata kelola peredaran film kita masih kacau. Tiga tahun menunggu baru dapat 25 layar di XXI,” tegas Benny.
Menurut Benny, persoalan tersebut perlu dibicarakan karena kesempatan sebuah film untuk mendapatkan layar sangat menentukan seberapa luas film tersebut dapat menjangkau penonton.
Ia juga mempertanyakan belum jelasnya parameter yang digunakan dalam menentukan pembagian layar dan jadwal tayang film di bioskop.
“Sistemnya terasa gaib, tidak ada parameter yang jelas,” ucapnya.
Bagi Gandhi, Iyus Jenius sejak awal memang dibuat dengan tujuan menghadirkan tontonan yang dapat dinikmati anak-anak. Keinginan tersebut tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya ketika film anak masih menjadi bagian dari tontonan keluarga di bioskop.
Salah satu film yang paling diingat Gandhi adalah Petualangan Sherina. Ia bahkan mengaku menonton film tersebut berkali-kali ketika masih seusia dengan karakter utamanya.
“Dulu waktu film ‘Petualangan Sherina’ rilis, umur saya sama persis dengan tokoh utamanya dan saya nonton film itu sampai 100 kali,” ujar Gandhi.
Sutradara Ahmad Romie mengatakan ide Iyus Jenius kemudian berkembang melalui diskusi bersama tim produksi. Dari pembicaraan tersebut, mereka menyusun cerita sekaligus menentukan pesan yang ingin disampaikan melalui film.
“Kami duduk bersama, lalu bilang: ‘Ini ide bagus, yuk kita kerjakan.’ Lalu kami mulai menyusun ceritanya, menyatukan visi, dan memasukkan apa yang kami rasa penting untuk disampaikan,” ujar Romie.
Format musikal membuat proses produksinya memiliki tantangan tersendiri. Para pemain anak harus menjalani proses yang tidak hanya berkaitan dengan akting, tetapi juga menyanyi dan menari.
“Melatih puluhan anak-anak yang berperan, sekaligus memadukan akting dengan tarian dan lagu jadi tantangan terbesar. Waktu yang terbatas membuat proses koreografi dan latihan menjadi ujian kesabaran tersendiri,” katanya.
Film ini juga menggunakan sejumlah lagu karya Papa T Bob sebagai bagian dari cerita. Lagu-lagu tersebut diolah kembali dan ditempatkan dalam alur cerita yang berkaitan dengan kehidupan anak dan keluarga.
Produser Adnan Djani mengatakan lagu-lagu lama tersebut ingin diperkenalkan kembali melalui cerita yang dekat dengan penonton masa kini.
“Kami ingin mengingatkan anak-anak sekarang bahwa pernah ada masa tontonan anak-anak yang bermutu. Tak semua bisa kami jelaskan secara mendalam dalam satu film, tapi kami ingin menyampaikan: kehidupan keluarga, hubungan orang tua dan anak, semuanya akan baik-baik saja. Dari lagu-lagu lama, kami ingin membangun cerita baru yang bisa dirasakan relevan hingga hari ini,” tutur Adnan.
Baba T Bob, putra mendiang Papa T Bob yang ikut bermain dalam film, melihat Iyus Jenius sebagai salah satu cara untuk menghadirkan kembali lagu anak kepada generasi sekarang.
“Kita ingin memberi pilihan kepada anak-anak. Bahwa ada tontonan yang sesuai dengan usia mereka, bukan yang memaksa mereka tumbuh terlalu cepat,” ujarnya.
Ia mengatakan film tersebut juga membawa pesan agar anak tidak terlalu takut ketika belajar ataupun melakukan kesalahan.
“Banyak anak-anak takut belajar, takut berbuat salah, takut dimarahi orang tua. Lewat lagu-lagu Papa T Bob yang kami kemas dalam bentuk musikal, kami ingin berkata: tidak apa-apa, belajar itu proses, dan prestasi itu bukan satu-satunya ukuran. Kalau kita berusaha bersama, akhirnya kita akan sampai,” sambungnya.
FFW 2026 menilai film anak seperti Iyus Jenius perlu mendapat ruang lebih luas. Dukungan terhadap film anak dinilai tidak cukup hanya dari sisi produksi, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat menjangkau penonton di berbagai daerah.
Benny berharap pemerintah, termasuk sektor pendidikan, dapat ikut mengambil peran agar film anak Indonesia tidak hanya beredar di kota-kota besar, tetapi juga memiliki kesempatan ditonton masyarakat di berbagai kabupaten. (BRG/Kul)










