koranindopos.com – Jakarta. Kecelakaan maut yang melibatkan truk rem blong kembali terjadi di Semarang, tepatnya di turunan Silayur, Kelurahan Ngaliyan. Truk tronton yang bermuatan aki itu kehilangan kendali dan menabrak sejumlah kendaraan serta bangunan di sepanjang jalan. Kejadian ini menyebabkan dua orang tewas, sementara beberapa kendaraan, termasuk motor yang terparkir di depan warung, turut menjadi korban.
Peristiwa tragis ini terjadi pada sore hari, saat truk yang melaju dari arah timur menuju barat itu gagal mengendalikan laju kendaraannya akibat rem yang blong. Menurut keterangan Kapolsek Ngaliyan, Kompol Indra Romantika, truk tersebut melaju menuruni jalan turunan yang cukup curam di Jalan Prof Hamka, sebelum mencapai RS Permata Medika. Truk yang tidak bisa berhenti menabrak beberapa kendaraan yang sedang terparkir, mulai dari motor hingga mobil, serta menghantam beberapa kios milik warga, termasuk warung martabak, tempat cucian motor, dan kios jus.
Zainal, salah seorang saksi yang sedang mencuci motor di lokasi kejadian, menceritakan betapa mencekamnya situasi saat truk itu menabrak kendaraan dan bangunan. Rendi Dimas Maulana, pemilik warung martabak, juga mengungkapkan bahwa truk tersebut menabrak lima motor yang terparkir di depan warungnya. Beruntung, tidak ada korban jiwa di antara para saksi dan pemilik kendaraan tersebut. Namun, dua korban yang berada di lokasi lain dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan ini.
Kecelakaan yang melibatkan truk rem blong bukanlah kejadian baru di Indonesia. Berdasarkan investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan seperti ini sering kali dipicu oleh kurangnya pemahaman sopir truk dalam mengoperasikan sistem rem. Ahmad Wildan, Senior Investigator KNKT, menyatakan bahwa banyak sopir truk yang tidak memahami cara kerja sistem rem pada kendaraan besar tersebut. Hal ini seringkali mengarah pada kesalahan pengoperasian, yang pada akhirnya menyebabkan rem blong.
Di Indonesia, sertifikasi untuk sopir truk masih sangat minim. Bahkan, dalam ujian SIM B1 dan B2, tidak ada materi yang mengajarkan tentang pengoperasian rem dengan benar. Ini menjadikan banyak sopir truk tidak tahu cara mengatasi masalah rem, yang berisiko membahayakan nyawa.
Jusri Pulubuhu, praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menambahkan bahwa kecelakaan seperti ini juga sering kali dipicu oleh perilaku sopir yang salah. Banyak sopir truk yang menetralkan gigi transmisi saat melaju di turunan dengan harapan dapat menghemat bahan bakar. Namun, kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan sistem pengereman kendaraan menjadi panas dan akhirnya gagal berfungsi, atau yang disebut dengan “rem blong”.
Peristiwa kecelakaan seperti ini mengingatkan kita pentingnya peran semua pihak dalam menjaga keselamatan berkendara. Salah satu solusi untuk mengurangi kejadian serupa adalah dengan meningkatkan pelatihan dan sertifikasi sopir truk. Pemerintah dan pihak terkait harus segera meninjau kembali sistem ujian SIM untuk pengemudi truk, dengan memasukkan materi yang mengajarkan cara mengoperasikan sistem rem dan teknik berkendara yang aman. Selain itu, pendidikan tentang keselamatan berkendara untuk sopir truk perlu diperkuat, agar mereka dapat menghindari kebiasaan buruk yang dapat membahayakan nyawa orang lain.
Penting bagi semua pengendara, baik sopir truk maupun kendaraan lain, untuk selalu mengutamakan keselamatan di jalan raya. Kejadian seperti kecelakaan maut di turunan Silayur ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab saat berkendara.(dhil)










