Koranindopos.com – JAKARTA – Seorang remaja berinisial MT (14) berhasil dievakuasi petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Depok setelah terjatuh ke jurang sedalam sekitar lima meter di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Minggu (5/7/2026). Proses penyelamatan dilakukan menggunakan teknik khusus untuk memastikan korban dapat diangkat dengan aman tanpa memperparah kondisinya.
Komandan Pengendalian Operasional Kebakaran dan Penyelamatan Damkar Depok, Tesy Haryati, mengatakan tim menggunakan sejumlah peralatan penyelamatan vertikal, seperti tripod, tandu (stretcher), tali, dan carabiner untuk mengevakuasi korban dari dasar jurang.
Menurut Tesy, sebelum diangkat ke permukaan, korban terlebih dahulu ditempatkan di dalam tandu khusus agar posisinya tetap stabil selama proses evakuasi.
“Di lokasi kami membuat sistem evakuasi. Korban ditempatkan terlebih dahulu di stretcher dalam kondisi aman sehingga memudahkan tim melakukan lifting ke atas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan sistem tersebut membuat proses pengangkatan tidak dilakukan secara manual sehingga lebih aman, baik bagi korban maupun petugas penyelamat.
Proses evakuasi melibatkan enam personel gabungan dari UPT Damkar Bojongsari dan Pos Damkar Merdeka. Keseluruhan proses di lokasi berlangsung sekitar 40 menit.
Meski demikian, korban baru dievakuasi menuju rumah sakit setelah ambulans beserta tenaga kesehatan tiba di lokasi sesuai permintaan keluarga. Orang tua korban meminta agar korban terlebih dahulu dipasangi bidai karena khawatir mengalami patah tulang atau dislokasi akibat benturan saat jatuh.
Setelah berhasil diangkat dari jurang, MT langsung dibawa menggunakan ambulans ke RSUD Sawangan untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan petugas, insiden bermula ketika korban bermain sepak bola bersama teman-temannya. Bola yang digunakan terjatuh ke area jurang, kemudian korban berusaha mengambilnya tanpa memperhatikan kondisi medan yang curam.
Akibatnya, korban terpeleset dan jatuh ke dasar jurang. Ia mengalami cedera pada kaki kiri serta tidak mampu memanjat kembali ke atas sehingga meminta bantuan warga.
Tesy mengungkapkan lokasi kejadian tidak memiliki pagar pembatas, padahal area tersebut kerap dijadikan tempat bermain anak-anak. Kondisi itu dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak.
Karena itu, Damkar Depok mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak saat bermain, terutama di lokasi yang memiliki potensi bahaya seperti jurang, sungai, maupun lahan terbuka tanpa pengaman.
Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat juga diharapkan memasang rambu peringatan atau penanda di lokasi-lokasi berbahaya agar tidak digunakan sebagai area bermain.
“Yang utama adalah pengawasan orang tua terhadap anaknya. Jika di lingkungan terdapat lokasi yang berpotensi membahayakan, sebaiknya diberikan tanda peringatan dan pengamanan agar tidak menimbulkan korban,” kata Tesy.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, terutama bagi anak-anak yang kerap bermain di area terbuka tanpa menyadari risiko yang mengintai.(dhil)










