koranindopos.com – JAKARTA – Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kota Bekasi hingga kini belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Api yang terus membara di tumpukan sampah menyebabkan kepulan asap pekat menyelimuti kawasan sekitar dan menimbulkan dampak bagi kesehatan masyarakat serta lingkungan.
Proses pemadaman menghadapi berbagai kendala karena karakteristik kebakaran di area timbunan sampah berbeda dengan kebakaran pada umumnya. Bara api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan dalam tumpukan sampah sehingga sulit dijangkau petugas.
Kebakaran di TPA umumnya dipicu oleh akumulasi gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik. Gas yang mudah terbakar tersebut dapat menyala ketika bertemu sumber panas, cuaca ekstrem, atau percikan api.
Setelah api muncul, material sampah yang terdiri dari plastik, kertas, kayu, dan limbah lainnya membuat kobaran cepat meluas. Meski bagian permukaan tampak berhasil dipadamkan, bara api di dalam timbunan sampah masih dapat terus menyala selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan penyiraman secara terus-menerus sambil mengurai tumpukan sampah menggunakan alat berat agar titik api di bagian dalam dapat dijangkau.
Selain menyulitkan proses pemadaman, kebakaran TPA Jatiwaringin juga menimbulkan asap pekat yang terbawa angin ke kawasan permukiman.
Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai partikel halus dan zat berbahaya yang dapat memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Paparan asap dalam waktu lama berpotensi menyebabkan iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit seperti asma dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Warga yang tinggal di sekitar lokasi diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas, serta menutup pintu dan jendela rumah ketika kepulan asap semakin pekat.
Kebakaran di tempat pembuangan sampah juga membawa dampak lingkungan yang tidak sedikit. Selain melepaskan emisi karbon dan gas beracun ke atmosfer, proses pembakaran dapat merusak kualitas udara dan berpotensi mencemari tanah maupun air di sekitar lokasi.
Jika tidak segera dikendalikan, kebakaran juga dapat memperbesar risiko longsoran sampah akibat struktur timbunan yang menjadi tidak stabil setelah terbakar.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan TPA yang lebih modern, termasuk pengendalian gas metana, pengelolaan sampah berbasis pemilahan, serta penerapan sistem sanitary landfill untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Petugas pemadam kebakaran bersama instansi terkait masih terus melakukan berbagai upaya untuk memadamkan api hingga ke titik terdalam. Penggunaan alat berat menjadi bagian penting dalam proses tersebut agar timbunan sampah dapat dibuka dan bara api tidak kembali menyala.
Pemerintah daerah juga terus memantau kualitas udara di sekitar lokasi serta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap, terutama kelompok rentan.
Peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat bahwa persoalan pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, kesehatan publik, dan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, risiko kebakaran serupa diharapkan dapat diminimalkan pada masa mendatang.(dhil/kmps)










