Koranindopos.com, Jakarta – Prestasi gemilang berhasil ditorehkan oleh PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI) dalam kancah industri pangan nasional. Produsen makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) yang berfokus melayani komoditas konsumsi jemaah haji Indonesia ini resmi menerima penghargaan tinggi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Apresiasi tersebut diberikan secara langsung sebagai bentuk pengakuan atas konsistensi serta kepatuhan perusahaan yang dinilai sangat disiplin dalam mengimplementasikan Program Manajemen Risiko (PMR) di seluruh lini industri pangan mereka.
Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, menyatakan rasa syukur yang mendalam atas apresiasi reguler yang diberikan oleh pihak BPOM RI kepada perusahaannya. Dirinya menegaskan bahwa penghargaan ini akan menjadi sebuah motor penggerak dan penyemangat baru bagi internal korporasi yang selama hampir lima tahun belakangan konsisten memformulasikan serta mengembangkan produk makanan siap saji berkualitas khusus demi memenuhi kebutuhan pangan jemaah haji.
”Alhamdulillah, kami memang sudah hampir lima tahun menyediakan makanan untuk haji. Banyak tantangannya, terutama mengubah persepsi masyarakat terhadap makanan siap saji,” kata Puspo kepada wartawan di kanyor BPOM, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).
”Imej makanan siap saji selama ini dianggap tidak enak dan memakai pengawet. Padahal produk kami tanpa bahan pengawet, bisa disimpan pada suhu ruang, tetapi rasanya tetap seperti makanan segar,” lanjutnya.

Lebih lanjut, inovasi pemanfaatan teknologi pengolahan pangan mutakhir yang diterapkan oleh produsen nasional ini terus membuktikan hasil nyata secara masif. Memasuki periode dua tahun terakhir, kualitas dari menu-menu yang disajikan telah mendapat pengakuan luas baik secara domestik maupun internasional. Bahkan, pada pelaksanaan operasional ibadah haji tahun lalu, hampir seluruh pasokan pangan para jemaah asal Indonesia berhasil dipenuhi oleh produk-produk unggulan keluaran PT HATI.
”Alhamdulillah tahun kemarin hampir 99 persen menggunakan makanan kami. Kami optimistis ke depan kebutuhan makanan haji akan semakin banyak menggunakan produk Ready to Eat dari PT HATI,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT HATI, Sugiri, memaparkan secara detail mengenai penerapan regulasi standarisasi keamanan pangan di perusahaannya. Menurutnya, pemenuhan Program Manajemen Risiko merupakan salah satu parameter wajib yang harus dipenuhi oleh pelaku industri demi menjamin proteksi total bagi para konsumen. Langkah pengawasan ini bersifat mutlak mengingat implikasi kesehatan yang dipertaruhkan sangat besar apabila mata rantai higienitas pangan mengalami kelalaian.
”Concern utama BPOM adalah bagaimana industri pangan mengikuti standar yang ketat dengan tujuan utama menjaga food safety atau keamanan pangan. Karena dampaknya sangat besar apabila makanan tidak aman,” kata Sugiri.

Manajemen PT HATI meyakini sepenuhnya bahwa adanya piagam penghargaan resmi dari BPOM ini akan menjadi katalisator utama dalam mendongkrak reputasi perusahaan di mata publik. Sugiri menambahkan bahwa pengakuan ini merupakan jaminan mutu tertinggi yang validitasnya diakui oleh negara, sehingga menjadi modal penting dalam memperluas jangkauan pasar dan mempertahankan kepuasan dari konsumen akhir.
”Brand awareness salah satunya adalah kepercayaan konsumen. Karena BPOM merupakan otoritas negara yang memiliki kompetensi di bidang keamanan pangan, tentu apresiasi ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas, keamanan, rasa, hingga kepuasan jemaah haji,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D. menjelaskan mengenai perkembangan masif dari penerapan Program Manajemen Risiko dalam satu dekade terakhir di tanah air. Dirinya menegaskan bahwa skema pengawasan mandiri ini kini telah diadopsi secara luas tidak hanya oleh korporasi berskala besar, melainkan juga mulai merambah ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
”Lewat program ini kami membuat auto-control atau self-control dari industri yang kita atur dari standar keamanannya, standar gizinya, standar processing-nya, standar proses pengemasannya, dan sebagainya,” paparnya.
Dari ribuan pelaku industri pangan yang beroperasi di wilayah Indonesia, BPOM RI bersikap sangat selektif dengan hanya memilih tujuh perusahaan terbaik untuk menerima apresiasi eksklusif ini, salah satunya adalah PT HATI.
”Pertama, tentu hitungannya sudah berapa lama melaksanakan program ini. Kedua, selama melaksanakan program ini apakah sudah memenuhi ketentuan atau tidak. Berikutnya perkembangan kemajuan industrinya kita lihat. Nah, berdasarkan itulah tidak mudah kita putuskan dengan berbagai pertimbangan,” paparnya. (BRG/Hend)










