Koranindopos.com, JAKARTA – Berdasar hasil analisis data dari BMKG, hujan lebat akan terjadi di wilayah Jabodetabek pada Kamis (13/10/2022) dan hari ini (14/10/2022). Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi banjir di beberapa wilayah.
Dari analisis data, ada beberapa daerah yang termasuk siaga dan waspada. Adapun daerah Jakarta yang tergolong siaga banjir meliputi, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sementara daerah penyangga juga ada yang masuk dalam status siaga banjir tersebut. Yakni, Bogor, Kota Bogor, dan Kota Bekasi.
Sementara itu untuk daerah waspada banjir di Jakarta meliputi Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Sementara untuk status waspada bagi daerah penyangga meliputi Bekasi, Kota Tangerang, Tangerang, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan.
Kepala Pelaksana (Kasatlak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Isnawa Adji menuturkan, untuk daerah yang berpotensi banjir tersebut, mereka sudah mengambil beberapa langkah antisipasi dan kesiapsiagaan sesuai arahan BMKG. Di antaranya, memantau kondisi terkini lapangan dan menyebarkan informasi peringatan (curah hujan, tinggi muka air) dan potensi risiko (wilayah genangan) kepada masyarakat serta melakukan koordinasi dengan stakeholder dalam mobilisasi tim siaga bencana dan sumberdaya.
”Kami juga sudah menyiapkan tempat pengungsian termasuk infrastruktur pengungsian sesuai protokol kesehatan, menyiapkan kebutuhan logistik dan peralatan, serta membantu evakuasi kelompok rentan,” terangnya kepada awak media.
Pihaknya juga mengimbau untuk mengikuti perkembangan kondisi lapangan, membatasi aktivitas rumah, hingga menyiapkan tas siaga. Itu berisi makanan, minuman, obat, uang, pakaian, hingga dokumen berharga lain.
Terkait daerah yang tergenang hingga pukul 06.00 kemarin, mereka mencatat masih ada beberapa daerah yang banjir dengan ketinggian 40 – 200 sentimeter. Secara total, ada 25 RT yang tersebar di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Dari lokasi banjir tersebut, hanya 4 KK dengan 9 jiwa di Kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan yang melakukan pengungsian. ”Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap berhati-hati dan waspada karena potensi curah hujan dengan intensitas sedang-lebat masih akan terjadi hingga tanggal 15 Oktober 2022,” katanya.
Sementara itu, Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna menuturkan, untuk jumlah RW yang terendam banjir pada 2013 dengan 2020 memang sangat jauh berkurang. Hal itu disebutkannya tidak lepas dari langkah gubernur sebelumnya. ”Mengapa berkurang jumlah RW banjir di 2020 dan 2021 dari 2013, karena sudah ada normalisasi Kampung Pulo dan di Manggarai pintu air dari dua menjadi tiga. Itu berpengaruh terhadap banjir. Jadi keberhasilan mengatasi banjir karena jasa gubernur sebelumnya. Penanganan banjir itu kinerja bersama antar gubernur,” terangnya.
Yayat juga menjelaskan, dalam memahami fenomena hujan di Jakarta harus mengenal siklus 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, dan seterusnya. ”Kalau kejadian 2020 diukur sebagai fenomena yang besar karena skala sudah 1000 tahun. Persoalannya, yang terjadi di Jakarta sebelumnya sistem drainase kita sudah jadul banget. Dan itu harusnya dikerjakan. Bahwa kasus 2020 memang puncaknya karena curah hujannya 1000 tahunan,” terangnya. Untuk mengatasi sistem drainase yang sudah jadul, dia menyebutkan Kementerian PUPR sudah menyampaikan usulan peningkatan kapasitas sistem pengendalian banjir di Jakarta.
”Itu karena sampai saat ini kita pakai sistem pengendalian banjir dengan masterplan tahun 1973, sudah tidak mendukung, jadul banget. Makanya, yang sekarang ini sistem skala 1000 tahunan harus dibuat. Itu sudah disiapkan oleh Menteri PUPR. Pak gubernur (Gubernur DKI Anies Baswedan) mengatakan bahwa sistem kapasitas sistem tata air kita sudah tidak mampu lagi menghadapi hujan ekstrem, yang skala 1000 tahunan, yang di atas 500 tahunan. Nah banjir sekarang ini rata-rata diatas 200 mm, sudah masuk kategori ekstrem. Pertanyaannya, kalau hujan ekstrem, penangananya ekstrem gak? harus,” ujarnya. (wyu/mmr)










