Koranindopos.com, Jakarta – Selama ini batik lebih banyak ditemui dalam koleksi busana dewasa. Desainer Leny Rafael melihat masih ada kebutuhan lain yang bisa dikembangkan, yakni pakaian berbahan batik yang sesuai untuk anak-anak.
Dari pemikiran itu, Leny meluncurkan Wou Kids, lini baru yang untuk tahap awal menyasar anak perempuan. Peluncuran tersebut dilakukan dalam acara “SABAGYA” di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026).
Menurut Leny, orang tua terkadang kesulitan mencari busana batik yang desainnya sesuai dengan usia anak.
“Terkadang anak juga suka kendala mencari batik yang sesuai dengan umur,” kata Leny Rafael.
Wou Kids menjadi salah satu langkah Leny memperluas pasar setelah cukup lama berkecimpung di industri fashion. Ide pengembangannya juga mendapat sentuhan dari putrinya, Syana Kania Salsabilla Suprayogi, yang sebelumnya telah mendesain busana untuk anak-anak figur publik.
Selain Wou Kids, Leny juga memperkenalkan merek baru bernama DW. Berbeda dengan lini anak, DW menyasar perempuan yang menyukai tampilan sederhana dengan sentuhan elegan.
Koleksi DW mengandalkan permainan garis, bordir, dan aplikasi. Leny mengatakan setiap desain dibuat untuk menghadirkan kesan sederhana tanpa meninggalkan tampilan yang rapi.
“Brand DW lebih fokus ke garis-garis, penampilan bordir dan aplikasi yang simple elegance,” ujarnya.
Peluncuran dua merek tersebut menambah lini yang sudah lebih dulu dibangun Leny. Dalam acara yang sama, Wou Batik juga merayakan 10 tahun perjalanannya di industri fashion.
Bagi Leny, batik masih memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan. Penggunaannya tidak terbatas pada satu jenis acara, tetapi bisa disesuaikan dengan berbagai kebutuhan, mulai dari busana sehari-hari hingga pakaian untuk acara yang lebih formal.
“Melalui batik kita bisa digunakan segala occasion dari ready to wear hingga glamour yang punya nilai value tinggi,” tutur Leny.
Peluncuran DW dan Wou Kids juga bertepatan dengan 25 tahun perjalanan Leny di dunia fashion. Selama itu, ia menghadapi perubahan besar, termasuk cara pemasaran dan munculnya fast fashion yang membuat tren bergerak semakin cepat.
“Perubahan dunia marketing dan fast fashion yang luar biasa sehingga kita dipacu terus berkarya dan eksistansi terus ada sampai sekarang,” katanya.
Menurut Leny, seorang desainer tidak cukup hanya memikirkan koleksi baru. Keberlangsungan usaha juga harus menjadi perhatian agar sebuah merek dapat bertahan dalam perubahan pasar.
“Tidak hanya membuat karya tapi bagaimana membangun bisnis fashion yang terus ada dan berkelanjutan,” ucapnya.
Pemilik Wou Batik, Anton Wibowo, mengatakan perjalanan Leny selama 25 tahun menunjukkan bahwa membangun bisnis fashion membutuhkan komitmen dan kerja sama dengan berbagai pihak.
“Mbak Leny ini sosok yang luar biasa. 25 tahun berkarya itu butuh komitmen. Melalui DW dan Wou Batik, kami ingin mendukung agar karya-karya Indonesia bisa naik kelas dan punya daya saing,” kata Anton.
Selain peluncuran koleksi, “SABAGYA” juga menghadirkan Kelas Modeling bersama Tenno Sujarwanto. Peserta mendapat pembekalan mengenai catwalk, pose, dan sikap profesional di dunia modeling.
Di usia 25 tahun perjalanan kariernya, Leny memilih untuk terus memperluas ruang berkarya. Dari busana perempuan, batik, hingga koleksi anak-anak, ia melihat perubahan pasar sebagai alasan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.
“Terus belajar mengikuti zaman, riset market dan target, tidak pernah menyerah yang utama fokus,” ujar Leny. (RIS/Hend)










