Koranindopos.com, Jakarta – Keinginan seorang ibu agar anaknya mendapat pendidikan lebih tinggi menjadi salah satu alasan Dwi Suswanti terus melanjutkan sekolah hingga meraih gelar Doktor Hukum. Bagi Dwi, pencapaian tersebut memiliki arti khusus karena sang ibu tidak sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Perempuan kelahiran Cilacap, 1 Desember 1988, itu ingin membuktikan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan harus diperjuangkan. Harapan sang ibu menjadi penyemangatnya untuk terus belajar, meski harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Dwi memulai pendidikan hukumnya di Universitas Jenderal Soedirman untuk meraih gelar Sarjana Hukum. Setelah itu, ia melanjutkan studi Magister Kenotariatan di Universitas Jayabaya hingga akhirnya menempuh pendidikan doktoral di Universitas Pelita Harapan.
Perjalanan tersebut dijalani bersamaan dengan tanggung jawabnya sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Ia juga menjalankan perannya sebagai istri Sintaro Bangsawan dan ibu dari tiga anak.
Kesibukan itu membuat Dwi harus pandai mengatur waktu. Di satu sisi, ia memiliki tanggung jawab profesional yang harus diselesaikan. Di sisi lain, ia tetap ingin hadir untuk keluarga sekaligus memenuhi tuntutan pendidikan doktoral.
Selain bekerja dan mengurus keluarga, Dwi juga aktif sebagai afiliator TikTok. Berbagai aktivitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya selama berusaha menyelesaikan pendidikan hingga jenjang tertinggi.
Di tengah banyaknya tanggung jawab, keinginan untuk mewujudkan harapan sang ibu membuat Dwi tetap melanjutkan studinya. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan membuka peluang yang lebih luas.
Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil ketika ia berhasil menyandang gelar Doktor Hukum. Kebahagiaan itu terasa semakin besar karena kedua orang tuanya masih dapat menyaksikan pencapaian tersebut secara langsung.
Bagi Dwi, melihat kebahagiaan orang tuanya menjadi bagian penting dari keberhasilan yang diraih. Ia menyadari bahwa gelar doktor yang kini dimilikinya juga berkaitan dengan harapan sang ibu yang sejak awal ingin anaknya memperoleh pendidikan lebih baik.
“Aku mungkin yang menerima gelar doktor, tetapi perjalanan ini juga membawa mimpi ibuku yang tak pernah padam tentang pendidikan anaknya,” tutur Dwi Suswanti.
Kisah Dwi menjadi gambaran bagaimana harapan orang tua dapat menjadi kekuatan bagi anak untuk terus berusaha. Keterbatasan pendidikan yang pernah dialami sang ibu justru menjadi alasan bagi Dwi untuk menempuh perjalanan akademik yang lebih panjang.
Gelar doktor itu pun menjadi pencapaian yang memiliki arti lebih dari sekadar keberhasilan pribadi. Bagi Dwi, keberhasilan tersebut merupakan bagian dari upayanya memenuhi harapan sang ibu yang ingin melihat anaknya memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik. (BRG/Kul)










