Koranindopos.com, Jakarta – Industri kreatif di Indonesia terus mendapat ruang baru untuk berkembang, salah satunya melalui lomba film pendek. Jenia Stationery tahun ini menghadirkan ajang Jenia Short Movie Competition 2025, sebuah kompetisi yang dirancang untuk menjadi wadah ekspresi kreator muda sekaligus membuka kesempatan bagi karya-karya segar lahir ke tengah masyarakat. Kompetisi ini akan berlangsung mulai 6 September hingga 5 November 2025 dan diselenggarakan secara daring melalui media sosial.
Dengan mengangkat tema “Berubah Untuk Berhasil”, Jenia ingin mengajak peserta dari berbagai kalangan untuk menuangkan gagasan kreatif mereka dalam bentuk film pendek berdurasi maksimal lima menit. Tema tersebut diharapkan mampu melahirkan cerita-cerita inspiratif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memotivasi penonton untuk melakukan perubahan positif dalam hidupnya.
Brand Ambassador Jenia, Raditya Dika, menilai kehadiran kompetisi ini menjadi momen penting bagi generasi muda. “Hubungan saya sama Jenia sudah lama. Memang salah satu kerja menyenangkan sama Jenia, pertama emang dipakai ya produknya. Dari situ seru banget kalo banyak orang yang kenal produk Jenia, terus diminta kerja bareng lah di kompetisi short movie ini. Seru lah. Apalagi zaman sekarang anaknya kreatif banget ya,” ujarnya.
Lebih jauh, Raditya melihat lomba ini sebagai bentuk nyata apresiasi terhadap karya. “Temen-temen kan ingin banget dipateisiasi. Kayaknya kompetisi ini jadi wadah untuk seberapa bisa kita membuat seni, dan seberapa besar diapresiasi. Dulu saya cukup sulit sih nyari lomba kayak gini, paling dari sekolah. Sekarang kan ada brand kayak gini dan langsung bikin,” katanya.

Selain Raditya Dika, dua nama lain turut menjadi juri, yakni Darius Manihuruk, sutradara sekaligus fotografer profesional, serta Ko Kok Ming, Direktur Jenia Stationery. Darius menekankan pentingnya karya yang mengandung nilai inspiratif. “Harapannya film yang dibuat jadi inspirasi dan memotivasi orang jadi lebih baik. Jadi film maker ini bisa bikin sesuatu yang inspiratif,” ungkapnya.
Menurut Darius, lomba ini terbuka untuk semua kalangan tanpa batasan latar belakang. “Ini bebas untuk siapapun. Tapi karena ini Jenia, harus ada produk, gak harus hard selling,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa film pendek yang dikirimkan maksimal berdurasi lima menit agar bisa dinikmati dengan ringkas namun tetap berdampak.
Sementara itu, Ko Kok Ming menuturkan bahwa ide penyelenggaraan kompetisi ini awalnya muncul dari masukan para mitra kreatif. “Ini saran dari Pak Darius. Jadi memberi wadah untuk generasi sekarang untuk berkarya,” ucapnya. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan lomba ini akan menjadi agenda rutin. “Sejauh ini sih ada. Moga-moga terus berlanjut tiap tahun,” tambahnya.
Sebagai juri, Raditya Dika mengaku punya pengalaman khusus menilai karya film pendek karena pernah menggarap serial “Malam Minggu Miko” dan sejumlah proyek lain. Ia menegaskan bahwa aspek emosional tetap menjadi penilaian utama. “Kebanyakan temen-temen yang baru coba, baru belajar, yang mau ditampilkan teknis heboh banget tapi rasanya kurang sampai. Artinya ujungnya apakah yang diperlihatkan film itu sampai ke kita. Kedua, baru itensi apakah sampai apa nggak,” katanya.
Sama seperti pengalamannya di dunia stand-up comedy, Raditya menilai bahwa rasa adalah kunci utama. “Sama seperti stand up komedi, yang pertama kita nilai lucu dulu apa nggak. Percuma dia kasih teknik atau jurus tapi nggak lucu,” lanjutnya.
Untuk karya terbaik, Jenia telah menyiapkan total hadiah senilai Rp25 juta beserta merchandise produk Jenia. Hadiah ini akan diberikan kepada tiga karya terbaik pilihan dewan juri serta satu karya favorit. Nantinya, hasil karya para pemenang juga akan ditayangkan melalui akun media sosial resmi Jenia.
Ko Kok Ming menambahkan, “Untuk pemenang akan ditayangkan di sosmed Jenia.” Darius pun menilai keunikan kompetisi ini terletak pada tema yang relevan dengan kondisi masyarakat. “Keunikan dari tema sih ya. Kayak kemarin kondisi di Indonesia lagi chaos, kita ingin beri energi yang positif. Untuk transptasi kita akan kurasi dulu dan akan menjuri live dari YouTube Jenia,” jelasnya.
Sementara Raditya menegaskan bahwa perannya sebagai juri lebih fokus pada penilaian karya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. “Saya sih ikut aja dari teknis, yang penting saya kasih nilai sesuai kriteria,” ucapnya.
Pemenang lomba akan diumumkan secara resmi melalui siaran langsung di kanal YouTube Jenia. Informasi lengkap mengenai mekanisme lomba, pendaftaran, hingga syarat dan ketentuan dapat diakses melalui situs resmi www.jenia.co.id.
Dengan konsep yang menggabungkan ekspresi seni, apresiasi, serta dorongan positif, Jenia Short Movie Competition 2025 diharapkan menjadi salah satu ajang bergengsi yang terus melahirkan talenta-talenta baru di dunia perfilman pendek Indonesia. (Brg/Kul)










