Koranindopos.com,JAKARTA – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) memperkirakan ada 50.000 pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan dideportasi dari Malaysia. Mereka adalah PMI yang berangkat bekerja ke Negeri Jiran melalui jalur non-prosedural. Sebelumnya, kementerian tersebut telah memfasilitasi pemulangan 56.000 WNI akibat dideportasi sepanjang Januari 2023 hingga Desember 2025. Hal tersebut disampaikan Menteri P2MI Mukhtarudin saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Malaysia Raden Dato Mohammad Iman Hascarya Kusumo di Kantor Kementerian P2MI, Pancoran, Jakarta Selatan pada Rabu (18/2/2026).
”Malaysia masih menjadi destinasi utama PMI karena faktor bahasa dan kedekatan geografis. Namun, sektor low-skill terutama industri perkebunan masih menghadapi persoalan serius, termasuk penempatan non-prosedural,” kata Mukhtarudin.
Mukhtarudin menjelaskan, penguatan shelter akan dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah guna memastikan proses pemulangan berjalan humanis dan terkoordinasi. “Kita perlu kesiapan anggaran dan fasilitas, termasuk shelter di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Kalimantan Utara,” ujar Mukhtarudin.
Mukhtarudin juga mengatakan, salah satu terobosan yang dibahas adalah rencana pendataan nasional terhadap PMI di Malaysia yang belum tercatat dalam sistem resmi. Pendataan baik daring maupun luring akan didukung KBRI Kuala Lumpur untuk memperkuat basis perlindungan. ”Kita tidak bisa melindungi mereka jika kita tidak tahu posisi dan tempat kerja mereka,” tambah Mukhtarudin.
Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan kebijakan perlindungan sekaligus transformasi tata kelola penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia pada 2026. Menurut Mukhtarudin, perubahan status dari badan menjadi kementerian merupakan wujud komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pelindungan PMI. “Transformasi ini memastikan fokus pada dua hal utama, yakni penguatan perlindungan dari hulu ke hilir dan peningkatan kapasitas SDM migran menuju level middle hingga high skill,” ujar Mukhtarudin. (hrs/mmr)










