Koranindopos.com, Jakarta – Enam tahun setelah penayangannya di bioskop pada Agustus 2019, Bumi Manusia kembali hadir untuk publik dengan pendekatan berbeda. Film yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer itu kini dirilis dalam format serial yang terdiri atas enam episode.
Versi terbaru ini tayang eksklusif di platform streaming KlikFilm mulai 5 Maret 2026. Penayangan dilakukan dua kali sepekan, memberikan ruang bagi penonton untuk mengikuti alur cerita secara bertahap.
Langkah tersebut menandai perubahan strategi distribusi dari rumah produksi dan sutradara Hanung Bramantyo. Alih-alih menghadirkan ulang dalam bentuk remaster satu bagian, tim produksi memilih mengembangkan ulang materi yang sudah ada menjadi tayangan berseri.
Hanung menjelaskan, keputusan itu berangkat dari evaluasi terhadap versi layar lebar. Saat dirilis pada 2019, film berdurasi lebih dari tiga jam tersebut tetap dinilai belum sepenuhnya mewakili kompleksitas novel.
Menurutnya, keterbatasan durasi bioskop membuat sejumlah adegan penting harus dipangkas. Padahal, konteks sejarah, sistem hukum kolonial, hingga relasi sosial antar tokoh memiliki peran signifikan dalam membangun struktur cerita.
“Ketika masuk bioskop, kami harus menyesuaikan durasi. Ada banyak bagian yang sebenarnya penting, tetapi tidak bisa semuanya masuk. Sekarang materi itu kami susun ulang,” kata Hanung dalam keterangan kepada media di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dalam format serial, cerita mengenai perjalanan Minke sebagai pribumi terpelajar di era Hindia Belanda ditampilkan dengan ritme yang lebih perlahan. Latar sosial dan politik yang sebelumnya hanya muncul sekilas kini ditempatkan sebagai bagian yang berdiri sendiri dalam tiap episode.
Pendekatan ini juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi tontonan pascapandemi. Penonton semakin terbiasa mengikuti cerita panjang dalam beberapa episode, termasuk karya sejarah atau drama berlatar masa lampau.
Hanung menilai kebiasaan baru tersebut membuka peluang untuk menghadirkan narasi yang lebih detail. Ia menyebut generasi muda kini lebih terbuka pada cerita dengan latar sejarah, selama disampaikan dengan alur yang jelas.
“Sekarang penonton lebih siap mengikuti cerita yang bertahap. Jadi kami merasa ini waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali Bumi Manusia dengan versi yang lebih lengkap,” ujarnya.
Momentum perilisan juga berkaitan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Tim produksi menyebut versi extended ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kedalaman karya sastra yang menjadi sumber adaptasi.
Materi tambahan dalam serial ini berasal dari rekaman produksi 2019 yang sebelumnya tidak digunakan. Proses penyuntingan ulang dilakukan untuk menyusun adegan-adegan tersebut menjadi enam bagian yang memiliki struktur dramatik masing-masing.
Dengan pembagian itu, konflik hukum yang dihadapi keluarga Nyai Ontosoroh serta dinamika relasi rasial pada masa kolonial ditampilkan lebih terurai. Penonton dapat melihat konteks sosial yang memengaruhi keputusan para tokoh, bukan hanya hubungan personal di antara mereka.
Hanung berharap format baru ini memberi pengalaman menonton yang berbeda dibanding versi bioskop. Ia juga membuka kemungkinan model distribusi serupa untuk proyek lain yang memiliki materi panjang dan kompleks.
“Ini bukan sekadar memecah film menjadi beberapa bagian. Kami menyusun ulang narasinya agar penonton bisa memahami lapisan cerita yang dulu belum tergali optimal,” tutup Hanung. (BRG/Kul)










